Arsip Banyak yang Rusak

169

DATANGNYA musim hujan selalu menjadi momok yang menakutkan bagi sejumlah sekolah di Mangkang, Tugu. Karena setiap hujan datang, sekolah selalu kebanjiran, akibat meluapnya Sungai Beringin. Seperti yang dialami SD Mangkang Wetan 2, Mangkang, Tugu. Banjir di sekolah kerap menjadi masalah tiap tahun ketika Sungai Beringin meluap.

”Bisa dipastikan setiap musim hujan, banjir sudah biasa dan menjadi langganan. Kawasan sini memang tiap tahun pasti banjir akibat meluapnya Sungai Beringin,” kata Sekretaris SD Mangkang Wetan 02, Tugu, Fachurrozi.

Ia menambahkan banjir yang kerap terjadi membuat repot pihak sekolah. Bahkan banjir terbesar tahun 2010 lalu sempat merusak buku dan arsip sekolah. Banjir masuk ke ruang sampai kurang lebih setinggi 50 cm. Tak ayal, buku, serta berbagai perlengkapan serta arsip sekolah banyak yang rusak. ”Buku dan data banyak yang rusak dan data hilang. Tidak bisa terselamatkan, itu kejadian sangat menyedihkan,” imbuhnya.

Kondisi tidak beda jauh dengan sejumlah sekolah baik PAUD, SD Mangkang Wetan 1, SD Mangunharjo maupun SMP Muhammadiyah 9 yang berada di Mangkang. Meluapnya Sungai Beringin menjadi pemicu utama terjadinya banjir yang menggenangi sekolah-sekolah di Mangkang. Bisa dipastikan, proses belajar mengajar di sekolah terganggu. ”Kalau kebanjiran, terpaksa diliburkan sekolah. Bisa tiga hari lebih,” tambah seorang guru Ngatirah.

Banjir ini bakal terus terjadi ketika intensitas hujan tinggi dan belum ada normalisasi Kali Bringin. Di SD Mangkang Wetan 02 misalnya sudah ada pavingisasi dan menaikkan ruang kelas. Ketika sekolah kebanjiran, otomatis aktivitas belajar mengajar terhambat. Tidak jarang, anak-anak dan guru harus ramai-ramai membersihkan lumpur yang masuk ruang kelas. Kondisi ini mulai berkurang, ketika sudah ada pavingisasi dan peninggian bangunan. ”Tapi jika banjir besar, masih masuk. Makanya buku atau arsip penting, kami amankan. Memang tidak ada biaya khusus, jadi ketika banjir anak-anak dan guru membersihkan lumpur bareng,” tambahnya.

Sejumlah sekolah di Mangkang boleh dikatakan sudah menjadi langanan banjir. Selama ini juga tidak ada anggaran khusus untuk mengatasi musibah banjir di sekolah. Pihak sekolah berharap, Pemkot Semarang merenovasi sekolah agar tidak kebanjiran. Yakni dengan meninggikan sekolah, atau segera menormalisasi Sungai Bringin. ”Sekarang sebenarnya sudah tidak begitu parah saat hujan. Tapi kami berharap ada renovasi agar sekolah lebih baik,” harap Fachurrozi.
Seorang siswa SD Mangkang Wetan 02, Rosma Ayu Harmas Palupi mengaku sedih ketika seolah tergenang banjir. Pernah ia dan teman-temanya harus membersihkan lumpur di ruang kelas usai banjir selama berhari-hari. ”Sedih juga kalau banjir, jadi tidak bisa belajar. Jadi ya bersihin lumpur di kelas,” kenangnya.

Siswa kelas 4 ini berharap agar sekolah diperbaiki, dan ketika hujan tidak kebanjiran. Meski saat banjir proses belajar mengajar terkendala, ia tetap semangat untuk membersihkan lumpur didalam ruang kelas. ”Belajar tetap semangat. Pernah harus belajar sambil membersihkan lumpur di kelas,” kenangnya. (fth/ida/ce1)