AJIE MAHENDRA/RASE
AJIE MAHENDRA/RASE
AJIE MAHENDRA/RASE

NGALIYAN – Pendidikan seks perlu diketahui sejak dini. Selain menghindari perilaku seks yang tidak sehat, edukasi seks dirasa penting untuk menghindari pelecehan seksual. Tapi sayang, tidak sedikit orang tua masih menganggap tabu dan bingung cara memberi tahu kepada anak.

Keterlambatan memberikan pendidikan seks bisa berdampak buruk. Bisa jadi, remaja yang ingin tahu justru mengambil referensi yang salah. Seperti lewat film porno, atau bertanya kepada orang yang mungkin juga tidak tahu banyak.

Melihat fenomena itu, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Youth Association of Central Java (Yocev) menggelar aksi preventif dan advokasi terhadap isu kesehatan reproduksi sekaligus HIV-AIDS. Komunitas yang lahir 21 Desember 2013 silam ini merupakan pilar PKBI gabungan dari perguruan tinggi dan SMA di Semarang.

Koordinator Utama Yocev Ari Setyawan mengaku, perkumpulan ini hanya boleh diikuti anggota yang sudah terdaftar peer educator (PE). ”Hingga kini, kami sudah mempunyai 50 anggota. Lumayan untuk komunitas yang belum genap satu tahun,” ungkapnya, kemarin.

Selain itu, komunitas ini kerap menggelar training fasilitator untuk melatih remaja agar mampu menjadi konselor sebaya bagi teman mereka dan melakukan penelitian tentang permasalahan seksualitas khususnya di Semarang. ”Kami mendapat data kuantitatif dari penelitian itu sehingga bisa mengedukasi dengan sasaran tepat,” papar Ari yang tercatat menjadi mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah Filsafat ini.

Edukasi ke sekolah-sekolah menjadi pengalaman baru bagi setiap anggota Yocev. Hal ini dipicu pembahasan topik pembicaraan yang sensitif. Meski begitu, kegiatan- kegiatan menarik menyasar remaja diharapkan menjadi wahana belajar untuk mendapatkan pendidikan seks yang komprehensif. ”Salah satunya pemilihan bahasa. Ngomong dengan anak SD, SMP hingga SMA, pasti beda. Begitu juga istilah-istilahnya. Dengan begitu, anak-anak dan remaja mudah mengerti dan tidak terjadi miss persepsi,” paparnya.

Suasana nyaman untuk saling bercerita wajib dibangun saat pertemuan. Nuansa itu akan membuat anggota tidak segan untuk curhat. ”Moderator kadang memancing mengenai gaya berpacaran anak kuliah, hasilnya sudah akrab dengan aktivitas kissing, petting dan necking. Fenomena yang harus diwaspadai dan perhatian bagi semua pihak,” terangnya. (mg16/zal/ce1)