Cukup 2 Jam, Kerupuk Mentah Sudah Kering

2648
INOVATIF: Rifki Firdaus, Gilar Pandu, dan Bayu Siswo Wibowo saat menyerahkan alat pengering kepada perajin kerupuk di Grobogan. (ISTIMEWA)
INOVATIF: Rifki Firdaus, Gilar Pandu, dan Bayu Siswo Wibowo saat menyerahkan alat pengering kepada perajin kerupuk di Grobogan. (ISTIMEWA)
INOVATIF: Rifki Firdaus, Gilar Pandu, dan Bayu Siswo Wibowo saat menyerahkan alat pengering kepada perajin kerupuk di Grobogan. (ISTIMEWA)

Tiga mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menemukan alat pengering kerupuk tanpa listrik. Namanya Apkostrik atau alat pengering kolektor surya tanpa listrik. Apa istimewanya?

EKO WAHYU BUDIYANTO, Tembalang

KETIGA mahasiswa tersebut adalah Rifki Firdaus, Gilar Pandu, dan Bayu Siswo Wibowo. Mereka sama-sama mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Undip. Ide pembuatan alat pengering tersebut, menurut Rifki, berawal dari rasa keprihatinan dirinya dan dua temannya terhadap para perajin kerupuk di wilayah Grobogan.
Dikatakan Rifki, para perajin kerupuk di Grobogan selalu kesulitan menyediakan kerupuk kering siap goreng karena sangat bergantung pada keberadaan musim. Bila musim hujan tiba, mereka kesusahan memenuhi permintaan pasar. Sebab, untuk mengeringkan kerupuk agar siap goreng hanya mengandalkan terik matahari.

”Yang jadi persoalan dan sering dihadapi para perajin kerupuk di sana (Grobogan), mereka selalu menjemur kerupuk mentah selama berhari-hari sebelum siap dipasarkan. Dari situlah kami menemukan ide untuk membuat alat pengering yang membantu para perajin agar mudah menyiapkan kerupuk kering sebelum dipasarkan,” ujar Rifki kepada Radar Semarang, Jumat (5/12).

Kerupuk yang merupakan makanan ringan yang kerap hadir pada menu sehari-hari masyarakat itu umumnya terbuat dari adonan tepung tapioka dicampur bahan perasa seperti udang atau ikan. Juga ada yang tanpa perasa. Agar dapat digoreng dan dinikmati, adonan-adonan yang sudah dicetak ataupun diiris itu haruslah dijemur hingga benar-benar kering. Tanpa dijemur di terik matahari hingga kering, mustahil dapat digoreng dan menjadi kerupuk yang renyah dan gurih.

”Banyak UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) yang menggeluti usaha kerupuk kesulitan bila datang musim penghujan. Intensitas sinar matahari yang lemah menjadikan mereka tak bisa segera menjemur bahan baku. Ini artinya mereka terpaksa melewatkan keuntungan yang seharusnya bisa diraih. Padahal, saat musim penghujan kebutuhan akan camilan biasanya juga melonjak mengikuti permintaan,” imbuh Gilar.

Sebagai mahasiswa teknik dan banyak mempelajari materi pencahayaan, kelistrikan, dan pengetahuan alam, menjadikannya ingin menciptakan temuan tersebut. Mereka memilih kawasan penelitian di Desa Brabo, Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan yang merupakan salah satu sentra pembuatan kerupuk. Ketiga mahasiswa ini juga meminta dukungan kampus untuk berbagai keperluan mulai dari obervasi, riset, dan pemakaian laboratorium.

”Kami menjalankan penelitian kira-kira satu semester lebih hingga tercipta Apkostrik ini. Dengan terciptanya alat ini, semoga dapat memberikan banyak manfaat kepada masyarakat secara luas,” ucapnya.
Dijelaskan, alat pengering tersebut merupakan peranti yang cukup sederhana. Selain terdapat cermin reflektor di bagian dalam, alat itu juga tersusun dari berbagai bagian lainnya seperti pelat tembaga, lapisan aluminium, dan kaleng besi. Bagian-bagian tersebut memiliki fungsi untuk menempatkan kerupuk-kerupuk yang masih basah untuk dikeringkan.

Pengeringan kerupuk menggunakan alat tersebut, dapat dilakukan dengan memakan waktu tak lebih dari dua jam. Jika dibandingkan dengan pengeringan konvensional, yakni menggunakan sinar matahari langsung, paling tidak membutuhkan waktu 16 jam penjemuran. Itu pun jika sinar
matahari sedang terik. Jika mendung, proses penjemuran bida memakan waktu lebih lama.

Alat temuan ketiga mahasiswa tersebut mampu menampung 10 kilogram kerupuk basah yang akan dikeringkan. Alat dengan bentuk kotak dan dilengkapi roda itu sangat mudah digunakan. Untuk menciptakan satu alat tersebut, hanya dibutuhkan biaya kurang lebih Rp 1 juta.

Secara prinsip kerja, alat temuan mereka menangkap sinar matahari dan mengoptimalkan panasnya melalui cermin reflektor, kemudian menghantarkan panasnya melalui bagian-bagian logam seperti pelat tembaga, lapisan aluminium, dan kaleng besi yang terpasang hingga membuat proses pengeringan menjadi lebih cepat.

Meski secara konsep cukup sederhana, alat pengering itu sempat melambungkan ketiga mahasiswa tersebut. Ketika diikutkan pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-27 di Undip Semarang beberapa waktu lalu, alat ini meraih medali emas pada salah satu kategori. (*/aro/ce1)

BAGIKAN

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here