AMBARAWA- Pemerintah Kabupaten Semarang dinilai tidak maksimal dalam mengembangkan objek wisata. Padahal sangat banyak objek wisata di bumi serasi ini yang dapat mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD). Kondisi seperti itu jika dibiarkan maka angka kunjungan wisata akan merosot.

“Pengelolaan tempat wisata di sini cenderung asal saja tidak terkonsepnya secara jelas. Jika tidak ada standar properti dan servis seadanya, bisa dipastikan tidak akan pernah mampu menjadi daya tarik. Jumlah wisatawan pun tidak akan pernah signifikan. lihat saja datanya di Badan Pusat Statistik (BPS),” ungkap konsultan pariwisata Jawa-Bali, Niko Anam Sastrodikromo dalam sarasehan dengan tema antisipasi menuju masyarakat ekonomi asian 2015 di sektor pariwisata yang digelar di warung Sepuhart jalan baru Ambarawa, Rabu (3/12) malam.

Niko menambahkan, Pemkab Semarang dalam hal ini Dinas Pemuda olahraga dan Pariwisata harus berani dan serius dalam menggarap pariwisata. Artinya objek dan fasilitas pendukungnya harus dikemas menjadi berkelas internasional dan mau melakukan branding melalui media massa. “Seperti Ambarawa cocok dengan konsep Nedherland Indie. Setelah digarap sesuai konsep, kemudian harus didukung promosi untuk memasarkannya. Saya lihat sekarang ini tidak terkonsep,” ungkap Niko di depan puluhan peserta dari sejumlah kalangan itu.

Sekda Kabupaten Semarang Gunawan Wibisono yang hadir dalam sarasehan yang digelar forum wartawan itu mengakui selama ini pengelolaan objek wisata masih belum terkonsepnya dengan jelas. Sehingga wisatawan asing jarang sekali masuk ke Kabupaten Semarang.”Kami akui, memang belum optimal untuk dapat mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Semarang. Ditambah lagi, masih banyak masyarakat yang belum sadar wisata,” ungkapnya.

Gunawan mengatakan, pihaknya saat ini sedang menggenjot kepariwisataan salah satunya mengonsep desa wisata. Saat ini saja ada sekitar 30 Desa Wisata Kabupaten Semarang yang sedang digarap.”Kita menggandeng pihak tour and travel, agar mau mengajak wisatawan berkeliling ke Kabupaten Semarang. Selain itu kita melakukan promosi wisata,” imbuhnya.

Ditambahkan Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang, Asof problem pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Semarang, tidak terlepas dari anggaran. Sebab total anggaran untuk kepariwisataan hanya 0,15 persen dari total rancangan APBD, atau sebesar Rp 800 juta. “Anggaran sebesar itu habis untuk belanja rutin saja. Jadi kenalannya pada besaran anggaran,” kata Asof. (tyo/zal)