Jeritan Bokong Truk di Rumah Noto UKSW

195
KARYA SENI: Pengunjung sedang menikmati karya foto yang disuguhkan dalam Pameran Foto "Jeritan Bokong Truk" karya dua dosen UKSW yang dipamerkan di Rumah Noto, Kamis-Jumat (4-5/12). (Dhinar Sasongko/Radar Semarang)
 KARYA SENI: Pengunjung sedang menikmati karya foto yang disuguhkan dalam Pameran Foto "Jeritan Bokong Truk" karya dua dosen UKSW yang dipamerkan di Rumah Noto, Kamis-Jumat (4-5/12). (Dhinar Sasongko/Radar Semarang)

KARYA SENI: Pengunjung sedang menikmati karya foto yang disuguhkan dalam Pameran Foto “Jeritan Bokong Truk” karya dua dosen UKSW yang dipamerkan di Rumah Noto, Kamis-Jumat (4-5/12). (Dhinar Sasongko/Radar Semarang)

SALATIGA – Tulisan atau lukisan di belakang truk sering kali menarik perhatian. Kadang kita dibuat tersenyum simpul atau tertawa karena tulisan atau gambar yang lucu. Tidak jarang disuguhkan adalah sebuah kritik sosial atau ungkapan lainnya.

Hal itulah membuat Anthony Tumimomor dan Dhave Danang, keduanya Dosen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), untuk mengabadikan tulisan atau lukisan dibelakang truk dengan kamera foto. “Seringnya kita hanya tersenyum waktu membaca tulisan atau melihat gambarnya, lalu selesai. Tapi kita tidak tahu kisah dibalik itu. Lewat pameran ini kita mencoba mengungkap cerita dibalik tulisan dan gambar di bokong truk,” papar Danang saat dijumpai ditengah berlangsungnya pameran.

Sedikitnya ada 273 foto berbagai ukuran hasil jepretan Anthony dan Danang yang disuguhkan dalam pameran fotografi bertajuk “Jeritan Bokong Truk” yang digelar di Rumah Noto UKSW. Ditata dengan apik, foto-foto yang dipamerkan disajikan dalam pigura dan juga dalam bentuk digital. Foto yang dipamerkan terbagi dalam 4 kelompok, yaitu jeritan hati, pesan moral, celoteh liar dan asal bicara.

Anthony dan Danang mengaku butuh waktu sekitar 2 minggu untuk mengumpulkan foto-foto yang dipamerkan. Hampir setiap harinya mereka menjelajah sampai didaerah perbatasan Boyolali, Solo, Jambu dan Bawen. “Pagi sebelum mengajar kami mulai mengambil foto, nanti dilanjut ketika pulang mengajar. Sampai kami jadi tahu truk itu ada jam-jamnya, kalau pagi sekitar jam 7 sampai jam 10 sedang kalau sore sekitar jam 4 sampai jam 6,” cerita Anthony bagaimana mereka memperoleh foto yang dipamerkan. Kadang mereka juga harus mengejar truk hanya untuk mendapatkan foto dengan hasil yang terbaik.

Diakui Danang, mengambil foto-foto tersebut termasuk gampang-gampang susah. “Yang pasti paru-paru kita kotor karena berjam – jam menunggu truk lewat,” imbuh Danang.
Pameran ini dibuka secara resmi oleh Pembantu Rektor III UKSW Arief Sadjiarto. Arief Sadjiarto mengatakan bahwa pameran ini menjadi momentum kecil namun bermakna. “Ditengah atmosfer penelitian dan perkuliahan, pameran ini memberi atmosfer baru dan semoga ini bisa menginspirasi,” katanya. Pameran akan digelar hingga Jumat (5/12) esok, pukul 09.30-16.00 WIB. (sas/zal)