SIDAK: Menhub Ignatius Jonan saat mengunjungi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 SIDAK: Menhub Ignatius Jonan saat mengunjungi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SIDAK: Menhub Ignatius Jonan saat mengunjungi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SEKAYU – Angka kecelakaan di perlintasan kereta api (KA) di Indonesia masih cukup tinggi. Penyebabnya beberapa faktor. Untuk itu, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan meminta agar Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkminfo) di daerah untuk memantau langsung dengan naik di kabin masinis. Hal itu diungkapkan Jonan saat ditemui usai rapat koordinasi (rakor) keselamatan perkeretaapian dalam penanganan perlintasan sebidang di daerah yang digelar di gedung A Lawang Sewu, Semarang, Kamis (4/12).

Jonan menyebutkan, selama 5 tahun 8 bulan ini, setidaknya korban meninggal akibat kecelakaan yang terjadi di perlintasan sebidang atau yang berpalang pintu mencapai 5.000 jiwa. ”Perlintasan KA liar ada sekitar 5.000 lebih. Kalau dari 5.000 itu satu saja tidak ada korbannya, jelas tidak mungkin,” kata Jonan.

Dikatakan, kecelakaan yang menyebabkan korban jiwa itu tidak sepenuhnya karena perlintasan tanpa palang pintu. Namun bisa juga karena kurangnya disiplin masyarakat. Misalnya, menerobos palang pintu yang sudah ditutup atau tidak mematuhi rambu-rambu. Tidak hanya itu, Jonan pernah mendapati langsung kecelakaan yang diduga korbannya sengaja menabrakkan diri.

”Satu persen dari 5.000 korban itu bunuh diri. Pas naik kereta inspeksi, saya pernah mendapati orang bunuh diri,” ujarnya di depan pejabat Kemenhub dan Dishubkominfo Jateng beserta jajarannya.

Karena itu, menurutnya, perlu ada upaya dari pemerintah pusat hingga daerah dengan membangun underpass atau fly over di perlintasan KA. Langkah itu dinilai lebih aman dibanding palang pintu kereta api, di mana masih banyak masyarakat yang melanggarnya.

”Membuat underpass atau fly over itu kalau jalan negara ya Kementerian Pekerjaan Umum. Tapi kalau di jalan kabupaten atau kota dananya tidak ada, bisa kirim surat ke Menteri Pekerjaan Umum. Satu underpass atau fly over sekitar belasan miliar, tapi saya tidak hafal panjangnya berapa itu,” ujarnya.

Untuk mendukung hal itu, Kepala Dishubkominfo di daerah diharapkan melakukan survei langsung di lapangan dengan naik kabin bersama masinis, dan melihat bahayanya perlintasan liar yang dibuat sendiri oleh masyarakat.

”Kadishub daerah minta izin siapa gitu berdiri saja di kabin, 10 kali sebulan, pasti kena (kecelakaan) satu,” tegasnya.

Jonan membeberkan, jumlah perlintasan KA dengan jalan ada 5.211 titik, dan sekitar 4.000 titik di antaranya tidak dijaga.

”Banyaknya perlintasan sebidang liar yang bermunculan dan jaraknya berdekatan antar perlintasan menyebabkan tingkat kerawanan terjadinya kecelakaan semakin tinggi,” katanya.
Dia menegaskan, pihaknya melakukan penutupan perlintasan liar seiring dengan peningkatan frekuensi KA yang melintas setiap harinya. Apalagi proyek double track Jakarta-Surabaya segera selesai, otomatis intensitas KA bakal semakin sering.

Jonan mengimbau kepada pemerintah daerah untuk memperhatikan perlintasan sebidang. Disarankan agar perlintasan tersebut dijadikan tidak sebidang, terutama di jalur padat dengan cara dibuatkan underpass atau fly over.

Kadishubkominfo Kota Semarang Agus Harmunanto mengatakan, di Kota Semarang ada 53 perlintasan liar. Sedangkan titik perlintasan kereta yang mendesak untuk dibangun fly over antara lain di Mangkang dan Kaligawe.

”Perlintasan liar ada 53 titik, yang resmi ada 10-an. Yang dikelola Dishubkominfo ada 2 perlintasan di Madukoro dan Indraprasta,” bebernya.

Terkait usulan agar Kepala Dishubkominfo di daerah meninjau langsung perlintasan KA dengan naik di kabin masinis, Agus menerima hal itu sebagai saran yang baik, dan peringatan agar jajarannya melihat kondisi langsung lapangan.

”Tujuannya Pak Menteri supaya tahu kebutuhan dan fasilitas yang ditangani pemerintah. Istilahnya agar melihat lapangan, di mana titik rawan,” pungkas Agus.

Dihubungi terpisah, Pakar Transportasi Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno mengatakan, fasilitas perlintasan kereta api seperti sinyal kereta api, track kereta api, hingga palang pintu perlintasan serta sumber daya penjaga palang pintu masih diindahkan oleh pemerintah setempat.

”Sepanjang jalur KA Kendal hingga Demak kan melintasi tiga wilayah yakni Kabupaten Kendal, Kota Semarang, dan Kabupaten Demak. Namun ketiga wilayah yang dilewati jalur KA tersebut, pemerintahnya masih cuek,” kritiknya.

Menurutnya, palang pintu yang tidak berpenjaga sebaiknya ditutup, dan masyarakat yang biasanya melintas di palang pintu tersebut dibuatkan jalur khusus agar akses mereka tidak terganggu.

”Penjaga palang pintu juga harus diperhatikan, mereka harus lulus uji kompetensi, dan yang jelas harus digaji di atas UMK (upah minimum kota/kabupaten), karena jika tidak mereka akan seenaknya dalam menjaga palang pintu tersebut,” kata Djoko.

Djoko menjelaskan, perlintasan KA yang ideal adalah dengan jalan layang. Menurutnya, jika jalan layang diterapkan merupakan sistem yang sangat ideal. ”Di Semarang saja semrawut, apalagi di daerah. Dulu saya pernah menggambarkan perlintasan KA sistem jalan layang, namun tidak diindahkan, ya akibatnya seperti ini,” pungkas Djoko.

Tinjau Pelabuhan
Sementara itu, kemarin Ignasius Jonan juga meninjau Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Sebagai pelabuhan internasional, menurut Jonan, Tanjung Emas dinilai kurang bagus dibandingkan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Dikatakan, berbagai fasilitas yang ada di pelabuhan perlu dilengkapi. Contohnya ketika dirinya mencoba ruangan yang dilengkapi wifi dengan mengeluarka smartphone miliknya. Sayangnya, setelah beberapa lama mencoba, koneksi wifi ke handphone miliknya enggan tersambung. “Kok susah, ini handphone saya yang jelek atau wifi-nya nggak bisa,” tanyanya kepada salah satu petinggi Pelabuhan Tanjung Emas.

Sembari terus mencoba, seorang petugas pelabuhan mendatangi dan menjelaskan jika wifi pelabuhan masih dalam perbaikan. Jonan pun langsung memantau rencana pembangunan rel kereta api menuju Pelabuhan Tanjung Emas, dan melanjutkan perjalanan ke terminal mercusuar serta mercusuar peninggalan Belanda tahun 1884.

“Kalau menurut saya sudah sangat bagus. Tapi, harus dikembangkan. Kalau bisa, pihak pelabuhan memberikan diskon kepada peti kemas sebesar 30 persen agar peminatnya meningkat dan beban jalan berkurang,” usulnya.

Salah satu perbaikan yang harus dilakukan, lanjut Jonan, adalah pada terminal kedatangan penumpang yang dirasa perlu adanya penambahan. “Terminal penumpang paling bagus di Tanjung Perak, saya minta pelabuhan itu jadi contoh nasional agar ditiru, sehingga membuat penumpangn nyaman,” tandasnya.

Menurut Jonan, pembenahan pada terminal harus dilakukan lantaran setiap tahunnya, jumlah penumpang angkutan laut akan terus mengalami kenaikan. “Penumpang kapal akan terus bertambah sebesar 3-5 persen, terutama ke Indonesia bagian Timur. Jadi, terminal penumpang harus diperbaiki,” harapnya. (ewb/den/aro/ce1)