Pemkot Akan Tempuh Konsinyasi

119

SAMBIREJO – Pembangunan jalan tembus Kartini-Gajah masih terkendala satu lahan yang belum bisa terbebaskan. Pemkot Semarang pun berencana menempuh jalur konsinyasi jika sampai akhir tahun ini warga Jolotundo yang terkena dampak proyek tidak mau menerima besaran ganti rugi sesuai hitungan tim appraisal.

Hal itu dikatakan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat melakukan tinjauan pembangunan jalan tembus Kartini-Gajah, kemarin (3/12). ”Masih ada satu titik rumah yang belum bisa dibebaskan. Pihak pemilik masih menginginkan harga yang tidak bisa kami ikuti, karena appraisal-nya jauh di bawah permintaan,” kata wali kota.

Meski begitu, pemkot akan tetap melakukan pendekatan hingga akhir tahun ini. Jika memang sampai batas waktu, tetap tidak bisa terselesaikan, maka pemkot akan mengambil langkah konsinyasi, dengan menitipkan ganti rugi di pengadilan. ”Kami coba melakukan pendekatan hingga akhir tahun. Kalau memang tidak bisa, di awal tahun akan kami konsinyasi dengan segala konsekuensinya,” tegas Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi.

Menurut Hendi, secara fisik proyek pembangunan sudah melebihi target, anggaran pembangunan yang dialokasikan melalui APBD 2014 pun sudah terserap. ”Tinggal persiapan lelang di bulan Desember atau Januari mendatang untuk tahap penyelesaian. Kami sudah menganggarkan untuk betonisasi jalan tembus ini,” imbuh wali kota.

Sementara itu, pejabat pembuat komitmen (PPK) jalan tembus, Sukardi mengatakan, saat ini proses pembangunan jalur Jolotundo sudah mencapai 90 persen lebih. Diakuinya, masih ada satu lahan yang hingga kini belum terbebaskan. Meski begitu, pihaknya optimistis, persoalan harga akan selesai akhir Desember ini.

Jika tidak, pihaknya akan melaksanakan langkah konsinyasi. Konsinyasi yang dia maksud, yakni menitipkan uang ganti untung pemilik lahan kepada pihak pengadilan. Sehingga pihak pengadilan yang akan memutuskan bisa tidaknya pemilik tanah menerima angka tersebut. ”Jika sudah selesai proses tahap ini, tahun depan akan dilanjutkan dengan pembangunan badan jalan. Anggaran yang dicanangkan untuk pembangunan badan jalan mencapai Rp 11 miliar,” tegasnya.

Pelaksana Proyek Jalan Tembus Kartini-Gajah, Muhamad Khusnul Adib mengatakan, sesuai kontrak pembangunan Jalan Jolotundo tahap pertama selesai pada 27 Desember. Pihaknya optimistis bisa menyelesaikan proyek ini sesuai target yang dicanangkan.

Wakil Ketua Komisi C Wachid Nurmiyanto menambahkan, dalam proses pembangunan pengembang harus memperhatikan saluran air di lingkungan sekitar. Jangan sampai proses pekerjaan mengganggu kenyamanan warga. ”Di wilayah Jolotundo merupakan daerah cekungan, jika salurannya terganggu bisa menyebabkan banjir di wilayah sekitar. Daripada dikomplain warga, kontraktor harus memperhatikan dan memperbaiki drainase lingkungan,” katanya. (zal/ida/ce1)