PONSEL TIRUAN: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono menunjukkan ponsel supercopy yang disita dari toko SS di Jalan Kaligarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
PONSEL TIRUAN: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono menunjukkan ponsel supercopy yang disita dari toko SS di Jalan Kaligarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
PONSEL TIRUAN: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono menunjukkan ponsel supercopy yang disita dari toko SS di Jalan Kaligarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Aparat Polrestabes Semarang menyita 125 ponsel tiruan alias supercopy merek terkenal dari toko ponsel ”SS” milik Ren, 25, di Jalan Kaligarang, Semarang, Rabu (3/12) kemarin. Penyidik mengendus penjualan ponsel palsu itu berdasarkan laporan beberapa pembeli yang merasa dirugikan.

Dalam gelar kasus kemarin, Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono menuturkan, para korban mengeluhkan gadget yang dibeli dari Toko ”SS” ternyata spesifikasi dan fiturnya tidak sesuai dengan produk asli.

”Sebanyak 125 ponsel supercopy keluaran baru seperti Samsung Galaxy S4 dan S5, iPhone 6, BlackBerry Forchen Design P 9902, dan merek lain telah kami sita,” paparnya kepada Radar Semarang.

Pemilik toko yang masih berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Semarang itu menjual ponsel dengan harga yang jauh lebih murah dari aslinya. Seperti BlackBerry Forchen Design P 9902 yang normalnya di angka Rp 20 jutaan, hanya dibanderol antara Rp 3 juta-Rp 5 jutaan.

”Meski para pembeli sudah tahu harganya terpaut cukup jauh, tapi mereka tidak sadar jika gadget tersebut tidak sesuai dengan yang diinginkan. Selain beda fitur, ponsel supercopy yang mereka beli cepat rusak,” kata kapolrestabes.

Berbekal laporan itulah polisi melakukan penggerebekan setelah mempelajari kasusnya. Meski begitu, tersangka Ren berkilah bukan sebagai pemilik toko. Dia hanya menjualkan barang titipan senilai kurang lebih Rp 100 juta tersebut.

”Memang yang dijual itu ponsel supercopy. Tapi barang itu bukan milik saya. Itu adalah titipan, dikirim dari Jakarta. Saya hanya sebagai jasa memperdagangkan saja,” akunya.

Pihaknya mengaku belum pernah bertemu muka dengan cukong yang menyuruhnya. ”Saya belum pernah bertemu muka dengan pengusaha yang menyuruh menjualkan berbagai HP supercopy ini. Biasanya cuma kontak-kontakan lewat telepon. Kalau laku, uangnya ditransfer lewat ATM,” terangnya.

Pengakuan tersangka Ren tidak sepenuhnya membuat penyidik percaya. Hingga kemarin, kasus ini masih terus dikembangkan. Selain memburu pemilik berbagai merek ponsel supercopy itu, polisi akan memanggil perwakilan dari perusahaan yang produk ponselnya dipalsukan tersebut untuk dimintai keterangan. Atas perbuatannya, tersangka Ren akan dijerat dengan pasal 94 UU RI No 15 tahun 2002 tentang pemalsuan merek. (mg16/aro/ce1)