INDAH: Gunung Prau di wilayah Temanggung kerap jadi jujukan pendaki yang menghabiskan weekend. (ABAZ ZAHROETIN/RADAR KEDU)
INDAH: Gunung Prau di wilayah Temanggung kerap jadi jujukan pendaki yang menghabiskan weekend. (ABAZ ZAHROETIN/RADAR KEDU)
INDAH: Gunung Prau di wilayah Temanggung kerap jadi jujukan pendaki yang menghabiskan weekend. (ABAZ ZAHROETIN/RADAR KEDU)

Gunung Prau menjadi sasaran wisata alam yang paling dicari dalam satu tahun terakhir. Eforia pendakian di gunung yang berada di Kabupaten Temanggung, Wonosobo, Kendal dan Batang itu, per minggunya sangat ramai. Akibatnya, lingkungan sekitar menjadi rusak. Seperti apa?

ABAZ ZAHROTIEN

PERUM Perhutani, Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kedu Utara, sebagai pemilik wilayah terluas di kawasan hutan lindung, berencana menutup kawasan camping tersebut sebagai dampak kerusakan alam yang terjadi. Saat ini, banyak pohon kayu yang tumbang dan rumput-rumput hilang dari hiasan alam.

Selama dua bulan terhitung sejak pertengahan Januari mendatang, Perum Perhutani KPH Kedu Utara bersama dengan BKPH setempat, akan menutup pendakian. Tepatnya, dari titik pendakian Kecamatan Wonoboyo serta titik pendakian Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.

“Tujuannya, untuk melestarikan alam. Kami senang hutan kami dikunjungi, tapi karena pengunjungnya terlalu banyak, kami terpaksa harus menutup untuk sementara waktu,” kata Kepala Seksi Humas Perum Perhutani KPH Kedu Utara, Herman Sutrisno.

Herman mengatakan, penutupan dilakukan bukan untuk menghambat para pendaki menikmati keindahan alam Prau. Melainkan, sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan agar keindahannya tetap terjaga. “Bukan berarti mau menutup pendakian dan tidak boleh ada pendaki. Tapi perlu jeda. Prau butuh diperbaharui agar tidak rusak,” terangnya.

Penutupan dijadwalkan berlangsung selama dua bulan ke depan. Selama penutupan, akan dilakukan program khusus penghijauan. Dalam kegiatan ini, Perum Perhutani akan menyertakan sejumlah kelompok pecinta alam. “Dua bulan selama penutupan, kita akan menanam pohon sebanyak mungkin sehingga dapat lebih hijau ke depannya.”

Dijelaskan, jenis vegetasi yang akan ditanam, antara lain, tanaman keras dan tanaman rimba lainnya. Vegetasi tersebut dipilih untuk mengembalikan vegetasi hutan yang tergerus akibat kerusakan alam.

“Saya tidak bisa membayangkan kerusakan yang terjadi, setiap akhir pekan minimal 1.000 orang ada di sana, kadang lebih dari 3.000 orang. Ini sangat membahayakan bagi kelangsungan kelestarian apabila tidak diberi jeda.”

Salah seorang anggota pecinta alam, Suhendar, mengatakan, pihaknya akan terlibat aktif dalam program penghijauan tersebut. Sebagai pecinta alam, ia mengaku prihatin dengan keberadaan Prau yang mengalami kerusakan akibat tingginya intensitas pendakian.

“Saya anggota SAR Temanggung yang juga pecinta alam, saya bersama teman-teman nanti akan turun langsung dalam program penghijauan, kami merasa prihatin.”

Dijelaskan, sejumlah kelompok telah bersiap untuk turun dalam aksi pelestarian lingkungan yang akan digelar pada Januari-Februari. Menurut Suhendar, langkah Perum Perhutani menutup pendakian sementara waktu, merupakan pilihan tepat. “Saya terakhir mendaki di sana ada lebih dari 5.000 orang, sampai kemah penuh sesak para pendaki.” (*/isk)
JS: Penghijauan Libatkan Pecinta Alam