SEMARANG – Sejumlah sekolah internasional di Kota Semarang yang ditulis dalam berita berjudul ”Pengelola Sekolah Internasional Bandel” yang dimuat Radar Semarang edisi Selasa (2/12), melayangkan klarifikasi. Salah satunya datang dari Semarang International School (SIS) di Jalan Jangli Raya 37, Candisari.

Business Manager Semarang International School, Imam Santosa, membantah jika sekolahnya bandel. Menurut dia, berita tersebut sangat menyesatkan mengingat Semarang International School sudah melaksanakan semua prosedur dan peraturan yang telah dicanangkan baik oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan maupun Dinas Pendidikan Kota Semarang.
Disebutkan, pihaknya telah menjalankan prosedur, di antaranya mengikuti sosialisasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Balikpapan (23–24 Agustus 2014) dan Bandung (5–6 September 2014). Pihaknya juga telah mengikuti sosialisasi di kantor Dinas Pendidikan Kota Semarang.

”Kami juga telah mengajukan rekomendasi dan persyaratan perubahan status dari sekolah internasional (SI) menjadi sekolah penyelenggara kerja sama (SPK) ke Dinas Pendidikan Kota Semarang maupun ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tanggal 30 Oktober 2014. Jauh sebelum tanggal tenggat waktu untuk memasukkan persyaratan perubahan status dari SI ke SPK tanggal 1 Desember 2014,” paparnya dalam klarifikasi yang dikirim ke Radar Semarang, Selasa (2/12).

Selain itu, tambah Imam, pihaknya telah menyelenggarakan pelatihan untuk guru bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang (Pendidikan Dasar dan PAUDNI) pada 12-13 November 2014 mengenai penggunaan kurikulum nasional 2013, serta muatan lokal ke sekolah internasional. ”Lalu sisi mana dari Semarang International School yang bandel itu?” tegasnya.

Menurut Imam, pemberian label ”bandel” kepada sekolah internasional berarti juga meragukan kinerja dari Dinas Pendidikan Kota Semarang yang sudah berusaha dengan keras memberikan pengarahan, koordinasi, serta pengawasan terhadap sekolah internasional di Semarang. ”Support dari Dinas Pendidikan Kota sangat besar terhadap proses perubahan sekolah internasional menjadi SPK. Pengawasan juga dilakukan secara berkala,” tandasnya.

Imam menambahkan, Semarang International School juga telah menerima konfirmasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bahwa perizinan perubahan status dari SI menjadi SPK, serta perubahan nama telah disetujui pada 1 Desember 2014.

Semarang International School, kata dia, tinggal menunggu surat izin berbentuk fisik yang akan dikirimkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Nantinya surat izin tersebut akan digunakan sebagai referensi untuk penggantian nama di seluruh media publikasi Semarang International School.

”Berdasarkan sosialisasi yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan, tanggal 1 Desember 2014 itu merupakan batas akhir untuk sekolah internasional mengajukan rencana perubahan menjadi SPK. Sedangkan perubahan nama di semua media publikasi akan dilakukan apabila pengajuan rencana perubahan status sudah disetujui oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, serta bukti fisik berupa surat izin telah diterima. Karena itu, tidak semua sekolah internasional akan otomatis diterima pengajuan rencana perubahannya,” paparnya.

Imam juga membantah SIS sulit untuk dimintai konfirmasi. Menurut dia, sekolahnya sangat terbuka jika Radar Semarang hendak melakukan konfirmasi. ”Kami memiliki tiga nomor telepon, satu nomor faks dan email yang tercantum di semua info publik yang kesemuanya aktif kita gunakan setiap hari. Bagaimana bisa Semarang International School sulit untuk dihubungi?” katanya setengah bertanya. Karena itulah, Imam meminta Radar Semarang meralat pemberitaan tersebut. Sebab, pemberitaan itu bisa memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat. (aro/ce1)