MUI Minta Oknum Jasa Nikah Siri Dihukum

215

“Jika terus dibiarkan akan menimbulkan banyak maksiat. Ini kejahatan yang terstruktur. Bisa-bisa mencemarkan agama” Kertua MUI Salatiga M Nur Rofik

SALATIGA–Merebaknya kasus oknum kelurahan yang membuka jasa nikah siri di Salatiga, memunculkan banyak tanggapan dari beberapa pihak. Ketua MUI Salatiga M Nur Rofik pun angkat bicara.

Bahkan, Nur Rofik meminta agar pelakunya dihukum, karena diduga juga memalsukan buku nikah. Jika terus dibiarkan akan menimbulkan banyak maksiat. Ini kejahatan yang terstruktur. Bisa-bisa mencemarkan agama. Soalnya pihak paling dirugikan adalah wanita. Jikapun nanti melahirkan anak, kasihan anaknya. Status bapaknya bisa dipertanyakan. belum lagi jika masuk soal masalah warisan bisa lebih rumit. “Warga negara harus ikut peraturan negara. Jika mayoritas umat Islam di Indonesia menganut mazdhab Syafi’i, tentunya harus ikut fatwa yang merunut ke Umar Bin Khattab bahwa pernikahan siri harus dihindarkan karena meremehkan hukum negara,” terangnya.

Menurut Nur Rofik, jika tidak segera ditangani bisa jadi menimbulkan prakter prostitusi berkedok syariah. “Ini sudah mulai banyak, prostitusi syariah. Pengunjung prostitusi dinikahkan dahulu oleh penghulu kemudian masuk ke bilik, setelah selesai, ditalak. Kan kalau begini memainkan hukum agama,” tambahnya.

Terpisah, Kepala KUA Tingkir Imam, mengatakan bahwa KUA tidak boleh berkomentar panjang tentang nikah siri. karena belum ada tindak pidananya. Jika sudah ada pemalsuan buku nikah harus dilaporkan ke Polisi. “Buku nikah itu ada nomor serinya dan tiap daerah berbeda. Buku nikah sifatnya hanya kutipan yang asli akte nikah. kalau tidak pernah tercatat dalam buku KAU berarti tidak resmi” tuturnya.

Berita sebelumnya, banyaknya kasus perselingkuhan di Salatiga, membuat jasa pernikahan kawin siri meningkat. Oknum yang paling diuntungkan tentunya adalah pegawai kelurahan “yang nakal”. Berdasarkan penulusuran wartawan koran ini, biaya nikah siri di Salatiga sebesar Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Fasilitasnya buku nikah, penghulu dan selametan ala kadarnya (tumpengan).

Berdasar sumber internal kelurahan yang namanya enggan dikorankan menuturkan, dalam praktek jasa nikah siri, dia bekerjasama dengan atasannya. Biayanya Rp 2 juta. Dengan rincian Rp 500 ribu untuk pengurusan kartu nikah, Rp 500 ribu untuk penghulu, Rp 500 ribu saksi dan Rp 500 ribu untuk tumpengan porsi 5 sampai 10 orang. Bahkan jika orang kaya, tarif yang dikenakan lebih tinggi. “Lha dari pada zinah, mending kita nikahkan. Saksi juga kita sediakan. Semuanya tinggal beres. Biasanya untuk tempat kami sering menggunakan jasa di pemancingan dan rumah makan,” terangnya. “Saya tahu, bahwa ini melanggar hukum. Tapi kalau mengandalkan uang dari negara saja tidak cukup,” keluhnya. (mg14/zal)