Lepas Atribut Polisi, Jadi Contoh Komunitas Lain

143
KOMPAK: Sebagian anggota Pernic saat kopdar di Jalan Pemuda setiap Jumat malam. (AJIE MAHENDRA/RADAR SEMARANG)
 KOMPAK: Sebagian anggota Pernic saat kopdar di Jalan Pemuda setiap Jumat malam. (AJIE MAHENDRA/RADAR SEMARANG)

KOMPAK: Sebagian anggota Pernic saat kopdar di Jalan Pemuda setiap Jumat malam. (AJIE MAHENDRA/RADAR SEMARANG)

Sama-sama suka menyukai motor Kawasaki Ninja, sekelompok anggota Polda Jateng membentuk komunitas Pernic atau Perintis Ninja Community (Pernic). Komunitas yang nongkrong di Jalan Pemuda setiap Jumat malam ini hanya open rekrutmen bagi anggota kepolisian. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA
, Sekayu

MARAKNYA komunitas pengendara motor tak menyurutkan para punggawa kepolisian membentuk perkumpulan sendiri. Meski kegiatannya tak jauh beda dengan komunitas-komunitas lain seperti touring atau gerakan sosial, Pernic terbilang lebih anggun. Komunitas yang hanya dihuni 25 orang ini cukup ketat menyeleksi anggota. Selain menyandang sebagai anggota Perintis Direktorat Sabhara Polda Jateng yang punya Ninja, calon anggota tidak boleh terlalu maniak dengan komunitas. Ya, memang berbeda dengan peraturan perkumpulan lain yang kadang menuntut totalitas komunitas.

”Semua anggota Perintis Polda boleh gabung di sini. Tak peduli umur, jabatan atau yang sudah pensiun sekali pun. Yang jelas, khusus bagi mereka yang punya waktu untuk kumpul-kumpul. Jangan sampai malah meninggalkan tugas sebagai aparat untuk ikut nongkrong seperti ini,” papar Ketua Pernic, Wahid Hasyim kepada Radar Semarang.

Dijelaskan, Pernic berdiri pada Juli 2012 silam. Komunitas ini merupakan wujud protes maraknya geng motor yang kerap bertingkah seenaknya saat itu. Mereka pun coba menunjukkan bahwa ada pula kumpulan pengendara motor yang alim.
Meski ada embel-embel dari kepolisian, Humas Pernic Adhitya mengaku, setiap anggota harus melepas semua atribut kepolisian ketika mengusung nama Pernic. ”Pernic sama seperti komunitas motor lain. Sekumpulan orang yang suka motor. Bukan mentang-mentang kami polisi, bisa bertingkah seenaknya,” katanya.

Latar belakang aparat tidak membuat Pernic berambisi menjadi raja jalanan. Meski sedang bebas tugas, mereka tetap ingin menjadi contoh bagi komunitas-komunitas lain agar tetap taat aturan.

”Ketika touring atau keliling kota, misalnya. Jangan melanggar traffic light atau rambu-rambu lalu lintas. Meski rombongan, kita tetap harus menghargai pengguna jalan yang lain,” tutur Adhitya.

Para anggota Pernic mengaku geram dengan komunitas motor atau mobil yang kadang bertingkah seenaknya di jalanan. Klub otomotif itu suka mencegat jalur lain ketika di persimpangan jalan, atau menghabiskan lebar jalan untuk digunakan sendiri.

”Malah ada yang pakai sirene. Menyuruh pengendara lain untuk memberikan jalan layaknya patwal yang sedang mengawal pejabat tinggi. Sebenarnya ini sudah kelewatan,” ungkapnya.

Selain kumpul-kumpul dan sharing seputar tunggangan, bakti sosial juga menjadi jadwal anggota Pernic. Membatu panti asuhan misalnya. Namun yang jadi agenda utama adalah sosialisasi safety riding. Sebulan sekali, Pernic mengajak pengguna jalan atau komunitas motor lain untuk diterangkan bagaimana semestinya berkendara. Soal kelengkapan surat-surat yang harus dibawa, serta peranti berkendara seperti helm yang harus SNI, dan lain sebagainya.

”Kami juga mengimbau soal tata krama di jalan raya. Seperti tidak boleh ugal-ugalan, memberikan kesempatan bagi penyebrang jalan, atau peraturan nonformal lain. Intinya, kami mengajak untuk menjadi pelopor dalam keselamatan berkendara,” jelas Wahid.

Selain itu, setiap dua bulan, komunitas di bawah bendera Kawasaki Ninja Indonesia (KNI) ini menggelar touring. ”Biasanya kopdar (kopi darat) karesidenan pelat H region Jateng-DI Jogjakarta. Setiap tahun kami juga bertandang ke kota yang menjadi tuan rumah jambore KNI,” pungkasnya. (*/aro/ce1)