JUARA : Tiga Siswa SMA 1 Kendal yang berhasil menemukan Renorbi berfoto bersama guru dan Kepala SMAN 1 Kendal, Sunarto. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
JUARA : Tiga Siswa SMA 1 Kendal yang berhasil menemukan Renorbi berfoto bersama guru dan Kepala SMAN 1 Kendal, Sunarto. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
JUARA : Tiga Siswa SMA 1 Kendal yang berhasil menemukan Renorbi berfoto bersama guru dan Kepala SMAN 1 Kendal, Sunarto. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

Tiga siswa SMAN 1 Kendal melakukan penelitian tentang bencana banjir yang melanda Kendal. Ketiganya berhasil menemukan sistem pencegahan dengan cara Renorbi. Seperti apa?

BUDI SETYAWAN, Kendal

KETIGA siswa cerdas yang berhasil menemukan sistem Renorbi adalah Hanum Aura Previaningrum, kelas 10 IPA 3, M Reza Palevi kelas 11 IPA 1, dan Golda Nisada Pageh kelas 11 IPA 1. Gagasan Renorbi yang sebenarnya tergolong sederhana itu mengantar ketiganya meraih juara dua dalam Lomba Cerdas Cermat Kebumian (LCCK) Nasional di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta. Yakni lomba menulis esai dan poster.

Renorbi merupakan singkatan dari Reboisasi, Normalisasi dan Biopori. Menurut Golda, ketiga hal tersebut dinilainya efektif untuk pencegahan terhadap bencana banjir yang melanda Kendal selama ini. Golda menjelaskan jika penyebab utama banjir di Kendal adalah penebangan pohon di Kendal wilayah atas yang tidak disertai dengan penanaman hutan kembali atau reboisasi. Hal tersebut mengakibatkan mudah tergerusnya tanah di wilayah atas saat hujan turun.

Tanah yang tergerus aliran air hujan dan dibawa ke sungai mengakibatkan sungai cepat mengalami sedimentasi tinggi. Hasilnya debit volume sungai cepat naik saat hujan turun sehingga meluber dan membanjiri wilayah-wilayah Kendal bagian bawah. “Selain itu, tidak adanya pohon mengakibat air hujan dengan mudah mengalir ke daerah bawah karena tidak ada penyerapan optimal akibat hutan di wilayah atas sudah banyak yang ditebangi. Makanya diperlukan biopori di semua wilayah sehingga air tidak langsung mengalir, tapi menyerap ke dalam tanah terlebih dahulu,” jelasnya, Selasa (2/12).

Solusi Reboisasi, normalisasi sungai dan biopori menurutnya efektif untuk penanggulangan banjir di Kendal. Mengingat, ketiga hal tersebut mudah dilakukan oleh masyarakat Kendal. “Reboisasi, sangat mudah dan bisa dilakukan oleh semua kalangan. Sedangkan normalisasi, dimaksudkan untuk sungai-sungai agar segera dikerjakan oleh pemerintah. Sebab, sejumlah sungai di Kabupaten Kendal terdapat sedimentasi yang menghambat arus air,” katanya. Sedangkan biopori, setiap rumah setidaknya harus memiliki satu biopori agar saat hujan deras air bisa cepat terserap.

Penemuan sistem Renorbi, menurutnya, setelah dilakukan diskusi dan penelitian selama lebih kurang satu bulan untuk pengumpulan data dari beberapa sumber. Diantaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Lingkungan Hidup (BLH), dan aktivis lingkungan yang ada di Kabupaten Kendal. “Sekitar satu bulan kami melakukan persiapan. Mulai dari pengumpulan data sampai penyusunan dan diskusi. Akhirnya menemukan istilah Renorbi,” paparnya.

Kepala SMAN 1 Kendal, Sunarto menyampaikan pihaknya sangat bangga dengan hasil yang diraih anak didiknya tersebut. “Selain prestasi, siswa juga bisa memberikan kontribusi kepada Kabupaten Kendal maupun daerah lain dalam pencegahan bencana banjir. Semoga ini menginspirasi generasi muda yang lain,” tandasnya. (bud/ric)