Antre PSKS, Warga Pingsan

118
CAPEK ANTRE: Kusniyanto pingsan saat antre pencairan Program SKS di Kantor Pos Johar kemarin. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
 CAPEK ANTRE: Kusniyanto pingsan saat antre pencairan Program SKS di Kantor Pos Johar kemarin. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

CAPEK ANTRE: Kusniyanto pingsan saat antre pencairan Program SKS di Kantor Pos Johar kemarin. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

PURWODINATAN – Demi mendapatkan uang Rp 400 ribu, warga rela berjam-jam mengantre saat pencairan Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) di Kantor Pos Johar, Selasa (2/12). Bahkan, di tengah riuhnya antrean, seorang warga terlihat pingsan. Pengantre PSKS yang pingsan itu diketahui bernama Kusniyanto, 49, warga Kapuran, Jagalan, Semarang Tengah.

”Tahu-tahu suami saya pingsan. Dia kejang-kejang saat duduk menunggu antrean. Memang dia punya penyakit seperti kerasukan kalau sedang pikiran kosong. Lalu mulutnya keluar busa seperti orang ayan,” ungkap Siti Sulityowati, istri Kusniyanto saat mengantre di Kantor Pos Johar, kepada Radar Semarang.

Anehnya, melihat Kusniyanto tergeletak di lantai, warga yang antre tak segera menolong. Mereka justru hanya melihatnya. Baru beberapa saat kemudian, istri Kusniyanto dibantu sekuriti kantor pos dan sejumlah pengantre lain mengangkat tubuh Kusniyanto.

Pantauan Radar Semarang kemarin, pencairan PSKS secara serentak dilakukan di 12 tempat di Kota Semarang. Untuk pencairannya, warga harus membawa Kartu Perlindungan Sosial (KPS) dan kartu indentitas yang masih berlaku.

Di Kantor Pos Johar kemarin hanya melayani penerima SKS dari 8 kelurahan di Kecamatan Semarang Tengah. Pihak Kantor Pos membuka dua loket pelayanan. Namun karena jumlah penerima SKS ratusan orang, membuat petugas cukup kewalahan dalam melayani. Akibatnya, warga harus rela mengantre sampai berjam-jam demi untuk mendapatkan uang Rp 400 ribu, pencairan bulan November-Desember 2014. Tak hanya itu, beberapa warga tampak kecewa lantaran sudah menunggu panjang di lokasi pengantrean, namun tidak tercatat dalam pendataan SKS. Padahal mereka sudah memegang KPS.

”Sudah antre lama, hampir satu jam, tapi saat dipanggil belum terdaftar. Saya harus ke kelurahan lagi untuk mengurus prosedur itu. Ya, harus gimana lagi. Saran dari petugas seperti itu,” keluh Rumiyati, 51, warga Kapuran, Jagalan.

Kepala Kantor Pos Johar, Kiagus M Amran, mengatakan, wilayah Kota Semarang penerima PSKS sudah bisa dicairkan mulai Selasa (2/12) kemarin. Tercatat, penerima PSKS di Kota Atlas sebanyak 42.566 warga. Sedangkan yang hanya memiliki KPS masih ada sekitar 1.822 warga.

”Tapi pada intinya, mereka yang belum tercatat di PSKS tapi memiliki KPS nantinya juga bisa mencairkan. Kalau alasan belum tercatat saya tidak tahu, tapi nantinya saya akan sampaikan kepada Kemensos selaku penyelenggara. Kalau tugas kami hanya membantu dalam pencairan saja,” katanya.

Loket Khusus Lansia
Ratusan warga Kecamatan Gayamsari kemarin berbondong-bondong datang ke Kantor Pos Gayamsari untuk mencairkan dana kompensasi kenaikan BBM bersubsidi atau dikenal dengan Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS).

Pada hari pertama kemarin, PSKS dibagikan kepada ratusan warga Kelurahan Kaligawe dan Sawah Besar yang telah terdaftar. Pencairan bantuan sempat diwarnai kericuhan lantaran banyak warga yang mayoritas lansia (lanjut usia) dan ibu-ibu berdesak-desakkan. Mereka terhimpit oleh pengantre lain yang tak mau kalah. Bahkan, banyak anak kecil yang menangis karena terhimpit.

“Kalau bisa dipisahkan antara pengantre lansia dan warga lain, kasihan kalau disuruh berdesak-desakkan seperti ini,” keluh Rokhani, 39, warga Kelurahan Kaligawe.

Hal yang senada diminta Rukimyati, 30, warga Tambak Dalam, Kelurahan Sawah Besar. Ia meminta agar pihak Kantor Pos mau memisahkan antara pengantre lansia dan warga lainnya agar tidak terjadi kericuhan. “Harusnya pengantre lansia ada jalurnya sendiri. Kasihan kalau harus berdesakan dengan penerima bantuan lainnya,” pintanya.

Selain itu, kata dia, harus ada tata tertib pengambilan nomor antrean oleh pihak Kantor Pos yang lebih manusiawi. “Harus ada batas jam pengambilan nomor antrean agar semuanya tidak berebut pada hari yang sama, sehingga para lansia tidak kesulitan,” katanya.

Raminah, 59, warga yang tinggal di Sawah Besar mengaku sudah antre sejak pagi. Namun lambannya pembagian nomor antrean membuatnya harus rela antre hingga siang hari.

“Warga harus berebut saat nomor antrean dibagikan oleh salah satu petugas Kantor Pos. Kalau masih begitu, jelas yang usia tua seperti saya kesulitan,” keluhnya.

Karena dikhawatirkan menimbulkan kericuhan, akhirnya pembagian nomor antrean dihentikan. Warga diminta berbaris rapi. Pencairan dana PSKS itu dijaga ketat sejumlah petugas Polsek Gayamsari bersama anggota Koramil setempat. (mg9/den/aro/ce1)