Erwin Santosa. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
Erwin Santosa. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
Erwin Santosa. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL—Sebanyak 46 tenaga medis dari tujuh rumah sakit (RS) Muhammadiyah di Jawa Tengah mengikuti pendampingan persiapan akreditasi rumah sakit versi 2012 di Rumah Sakit Islam (RSI) Weleri. Tujuannya sebagai persiapan agar RS di bawah naungan Muhammadiyah bisa mendapatkan akreditasi.

Direktur RSI Weleri, Edi Sumarwanto mengatakan akreditasi rumah sakit versi 2012 menurutnya hal penting. Sebab RS dituntut untuk bisa meningkatkan pelayanan kesehatan kepada pasien. “Tujuan dari akreditasi ini tidak hanya sekedar nama saja, tapi perlindungan RS terhadap pasien,” katanya, Senin (1/12). Pendampingan bersifat internal bagi tenaga medis di sejumlah rumah sakit islam Muhammadiyah. “Akreditasi juga menjadi sangat penting karena untuk menjaga dan memberikan jaminan mutu serta menetapkan kelas rumah sakit,” jelasnya.

Untuk mendapatkan akreditasi menurutnya bukan hal mudah. Sebab semua aspek RS akan dinilai oleh Tim Komite Akreditasi RS. Diantaranya, kualitas sumber daya manusia (SDM), alat medis, pelayanan, sarana dan prasarana rumah sakit. “Pada intinya pendampingan ini dilakukan supaya bisa mencapai standar pelayanan yang berorientasi pada perlindungan pasien. Sebab, itu merupakan penilaian utama dalam akreditasi,” lanjutnya.

Sejauh ini, dari 2.396 rumah sakit di seluruh Indonesia, baru 60 RS saja yang dinyatakan lolos akreditasi versi 2012. Sedangkan RS Muhammadiyah, dari 100 lebih baru dua yang lolos akreditasi. “Pendampingan ini menjadi upaya Muhammadiyah untuk terus mempersiapkan diri agar rumah sakit yang dikelola Muhammadiyah lolos dari akreditasi. Jadi, pendampingan dilakukan roadshow ke kota-kota,” paparnya.

Ketua Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah, Erwin Santosa mengatakan rumah sakit Islam di bawah naungan PP Muhammadiyah akan terus berupaya menjadi yang terbaik. Salah satunya dengan melakukan pendampingan untuk mencari akreditasi. “Ada ratusan rumah sakit islam Muhammadiyah di Indonesia, baru ada dua yang lolos akreditasi yakni Surakarta dan Lamongan. Harapannya, semua RS Muhammadiyah dapat berkembang dan maju,” tandasnya.
Menurutnya, kebutuhan rumah sakit semetinya tidak hanya didasarkan pada ekonomi masyarakat saja. Tapi dana untuk membangun semua kebuuthan masyarakat supaya bisa menjawab tuntutan kesehatan dari masyarakat. (bud/ric)