Proyek Mangkrak, Siswa Belajar di Balai Kelurahan

147
MENGUNGSI: Siswa kelas V SDN Trimulyo 2 Genuk terpaksa belajar di balai kelurahan setempat. (kanan) Proyek renovasi gedung SDN Trimulyo 2 yang mangkrak. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 MENGUNGSI: Siswa kelas V SDN Trimulyo 2 Genuk terpaksa belajar di balai kelurahan setempat. (kanan) Proyek  renovasi gedung SDN Trimulyo 2 yang mangkrak. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

MENGUNGSI: Siswa kelas V SDN Trimulyo 2 Genuk terpaksa belajar di balai kelurahan setempat. (kanan) Proyek renovasi gedung SDN Trimulyo 2 yang mangkrak. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

GENUK – Proses belajar mengajar di SD Negeri Trimulyo 2, Kecamatan Genuk, Semarang sangat memprihatinkan. Pasalnya, sudah hampir dua bulan ini, puluhan siswa kelas V sekolah tersebut terpaksa harus belajar di Balai Kelurahan Trimulyo. Gedung yang biasa digunakan untuk pertemuan warga itu, terpaksa disulap sedemikian rupa untuk proses belajar mengajar. Praktis, para siswa pun terlihat kurang nyaman dalam mengikuti proses pembelajaran.

Menurut warga setempat, Fariz Ardianto, puluhan siswa ini terpaksa mengungsi ke balai kelurahan, lantaran renovasi kelas mereka terhenti alias mangkrak. Bangunan kelas yang sudah telanjur dibongkar, ditinggal begitu saja oleh pelaksana proyek. Diduga, proyek renovasi gedung sekolah itu terhenti akibat pelaksanaan lelang gagal.

Kepala SDN Trimulyo 2, Sulami, membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan, hingga kini sejumlah siswanya terpaksa belajar di balai Kelurahan Trimulyo yang letaknya bersebelahan dengan sekolah tersebut. Hal itu sudah berlangsung 2 bulan sejak bangunan kelas dibongkar.

”Saya juga tidak tahu persis mengapa pembangunannya dihentikan, padahal sudah telanjur dibongkar bagian atapnya. Yang tahu, Kepala UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) Pendidikan Kecamatan Genuk. Dengar-dengar masalah gagal lelang, dan pembangunannya dilanjutkan tahun depan,” jelasnya kepada Radar Semarang, Senin (1/12).

Pihaknya saat ini hanya bisa pasrah. Sebab, ia belum lama bertugas di sekolah tersebut. ”Saya kebetulan juga baru di sini (Kepala SDN Trimulyo 2), jadi tidak tahu persis kondisi permasalahannya. Saya tidak bisa berkomentar banyak. Semua pembangunan di sekolah ini wewenang UPTD Pendidikan Genuk,” katanya.

Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Genuk, Daryata, membenarkan jika pembangunan gedung SDN Trimulyo 2 ini hampir dua bulan dibongkar, dan dua minggu ini dihentikan. Hal itu dikarenakan pihak pelaksana proyek konon bermasalah, sehingga tidak dilanjutkan. Namun, permasalahan apa yang dimaksud, Daryata enggan menjelaskan secara detail.

”Pembongkaran bagian atas gedung memang sifatnya mendesak, karena waktu itu kayunya sudah lapuk. Namun setelah dibongkar pihak CV yang menangani pembangunan gedung malah sekarang menghentikan. Saya kurang tahu persis nama CV yang menangani, karena ini lelang dari pemkot,” katanya.

Dikatakan, pihaknya juga menyayangkan penghentian pembangunan gedung sekolah tersebut. ”Waktu itu, awalnya terkait kerusakan bagian atap gedung kita lapor ke pemkot dan ditangani sebuah CV. Setelah dikerjakan dua minggu kok berhenti secara tiba-tiba, hal ini membuat pihak sekolah tidak bisa berbuat apa-apa,” jelasnya.

Ditegaskan, saat ini solusi yang bisa dilakukan pihak UPTD Pendidikan Genuk bekerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Genuk untuk meminjam Balai Kelurahan Trimulyo.

”Kami juga sudah matur ke RW untuk menjalin kerja sama, sekiranya ada kayu-kayu bekas yang bisa untuk membantu sekolah,” katanya.

Ditambahkan, pihaknya juga sudah mengajukan anggaran ke pemerintah kota, dan akan diusahakan dibantu tahun depan. ”Saat ini biar sementara sebagian siswa kelas V belajar di balai kelurahan. Untuk siswa lain masih bisa belajar di gedung lama yang saat ini belum dibongkar,” ujarnya.

Jumadi, Kepala SD Genuksari mengaku turut prihatin melihat kondisi SDN Trimulyo 2 yang kebetulan berada satu wilayah di Kecamatan Genuk. ”Saya juga ikut prihatin, kami mohon agar ini segera dibantu karena sampai kapan siswa harus belajar di balai kelurahan,” katanya prihatin.

Pakar Pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnes), Mungin Eddy Wibowo mengatakan, fasilitas sekolah yang tidak mendukung dapat berdampak buruk bagi keberlangsungan proses belajar mengajar. Selain itu, kata dia, penyerapan materi-materi yang diberikan oleh guru tidak dapat maksimal.

”Siswa yang belajar harus didukung dengan fasilitas yang mumpuni, antara lain fasilitas gedung. Bagaimana pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal jika gedung saja pembangunannya malah telantar,” kritiknya. (ewb/aro/ce1)