Terboyo Kulon, Satu Pegawai Rangkap 2 Kasi

146

KANTOR Kelurahan Terboyo Kulon berada di Kecamatan Genuk merupakan pemekaran wilayah dari Kelurahan Tambakrejo pada tahun 1993. Kelurahan Terboyo Kulon memiliki luas 197,501 hektare dengan jumlah lahan bangunan sebesar 38 persen, lahan pertambakan 22 persen dan 40 persen terkena abrasi.

Saat ini, wilayah Kelurahan Terboyo Kulon yang memiliki batas barat dengan jalan arteri dan batas utara pada kali tenggang memiliki jumlah penduduk 698 jiwa dari 172 kepala keluarga yang terdiri 2 RW 6 RT. Sedangkan pada struktur pemerintahan hanya tersusun Lurah, Sekretaris Lurah, Kepala Seksi (Kasi) Pembangunan dan Kasi Trantib. Karena hanya dijabat empat orang, satu kasi harus merangkap dua pekerjaan dalam urusan pelayanan.

”Kasi Kesejahteraan Sosial (Kesos) dan Kasi Pemerintahan masih kosong. Memang harusnya ada juga Kasi Umum. Tapi juga belum ada,” kata Lurah Terboyo Kulon, Suparman melalui Kasi Pembangunan Moch Agus.

Menurut idealnya, struktur dalam pemerintahan memiliki jumlah 9 orang mulai dari lurah hingga staf. Sehingga dalam setiap kasi memiliki staf. Namun di Kelurahan Terboyo Kulon belum ada. ”Memang baru memiliki dua kasi dan belum ada stafnya. Sehingga dalam pelayanan atau pekerjaan masing-masing kasi harus merangkap kasi yang belum ada,” kata Agus kepada Radar Semarang, kemarin.

Dengan jumlah pegawai yang minim, pihaknya mengakui tidak mengalami hambatan dalam menjalankan roda pemerintahan. Ini karena wilayah baru dan jumlah penduduk tidak banyak, semua berjalan lancar dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. ”Meskipun jumlah pegawai hanya empat orang, roda pemerintahan jalan terus. Rapat juga jalan terus. Terpenting koordinasi, supaya segala permasalahan bisa cepat teratasi. Kami sering mengadakan rapat sebulan dua kali pada minggu pertama dan keempat,” terangnya.

Sementara ini, Kelurahan Terboyo telah memiliki 3 bangunan yang terdiri atas kantor, balai kelurahan serta rumah dinas yang semuanya berdiri sejak tahun 1993. Hanya saja bangunan yang ada, belum memiliki luas yang ideal. ”Idelanya luas bangunan 150 meter persegi. Tapi kalau bangunan ini hanya memiliki sekitar luas 98 meter persegi. Jadi ruang ini hanya terisi enam meja. Selain itu, jumlah pegawai juga masih terbatas,” tuturnya.

Meskipun masih memiliki banyak kekurangan, pihaknya tidak pernah merasa berkecil hati atau iri dengan jumlah pegawai banyak di kelurahan lain. Pihaknya menyadari, kondisi wilayahnya juga masih minim penduduk. ”Kalau mengusulkan tambahan pegawai itu wajar. Tapi kami menyadari, wilayah dengan jumlah penduduk sedikit. Apa ada yang mau, misalkan ditempatkan kerja di daerah yang sering terendam air rob. Namun kalau musim penghujan malah tidak banjir,” tuturnya.

Sedangkan untuk mengantisipasi bangunan yang kerap terendam air rob, pihaknya telah melakukan peninggian lantai. ”Tahun 2012 kantor kelurahan ini sudah pernah ditinggikan. Lalu pada tahun 2013 juga ditinggikan 80 cm, karena air rob setiap tahun mengalami kenaikan. Sementara ini, bangunan rumah dinas juga masih dalam tahap peninggian lantai supaya tidak tergenang air rob,” jelasnya.

Meskipun wilayah perkantoran sering terendam banjir rob, roda pemerintahan tetap jalan dan tetap melakukan pelayanan kepada masyarakat. Bahkan dengan keterbatasan pegawai yang ada, kantor tersebut selalu ada pegawai yang bertugas. ”Meskipun banjir, pegawai tetap masuk. Kami sudah menyiapkan sepatu boot supaya tidak basah. Sehingga pekerjaan jalan terus dan kantor tidak kosong. Selain itu, kalau ada yang tidak masuk selalu izin, meski hanya lewat handphone (HP). Namun para pegawai selalu terus berkoordinasi,” ucapnya.

Menurutnya, tempat tinggal para pegawai di Kelurahan Terboyo Kulon tidak jauh dari kantor kelurahan. Bahkan perjalanan dari rumah menuju kantor kelurahan hanya butuh hitungan menit saja.

”Saya sendiri naik kendaraan. Paling 5 menit sudah sampai kantor pukul 07.00 pagi. Habis itu muter sesuai jadwal tugas yang diberikan kepada saya, seperti ke balai kota atau kantor kecamatan,” kata Agus yang bertugas sejak tahun 2006 ini.

Selain mendapatkan tugas Lurah, Agus merangkap di Kasi Pemerintahan dan Kasi Pembangunan. Bahkan, dirinya tak segan melakukan kegiatan lain saat waktu luang, seperti kebersihan. ”Kalau pas tidak ada tugas, biasanya nyapu atau ambil alat pemotong rumput membersihkan sekitar wilayah kantor, kadang sampai pinggir jalan raya. Memang kerja bakti juga belum rutin, upacara juga belum pernah, sebab pegawai hanya empat orang, penduduknya juga sibuk bekerja,” katanya.
Menjadi perangkat kelurahan bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebagai pegawai atau pamong masyarakat harus siap 24 jam. Hal ini harus dilakukan agar bisa lebih tanggap dalam mengambil tindakan ketika ada kejadian luar biasa.

Sementara itu, Camat Semarang Timur, Sumardjo mengakui di Kecamatan Genuk terdapat 13 kelurahan. Hanya saja baru 4 kelurahan yang memikiki struktur pegawai maksimal. ”Kelurahan Karangroto, Bangetayu Kulon, Bangetayu Wetan dan Gebangsari. Kalau 9 kelurahan lainnya jumlah pegawainya belum maksimal,” terangnya.

Menurutnya, idealnya struktur perangkat kelurahan memiliki Kasi Pemerintahan, Pembangunan, Kesos, Trantib. Akan tetapi pada wilayahnya masih ada yang belum memiliki struktur lengkap. ”Kami juga sudah mengajukan ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) untuk melakukan penambahan pegawai. Selain itu, setiap kasi juga harus ada stafnya. Namun hingga sekarang kami masih menunggu hal itu,” pungkasnya. (mg9/ida/ce1)
Idealnya, Minim Miliki Sembilan Pegawai