Melihat Mesin Tua Pengolah Kopi

603
MASIH PRODUKTIF: Peserta heritage walk sedang mendapatkan penjelasan tentang gudang dan peralatan di Pabrik Kopi Banaran yang sudah berdiri sejak 1911. (PRATONO/RADAR KEDU)
 MASIH PRODUKTIF: Peserta heritage walk sedang mendapatkan penjelasan tentang gudang dan peralatan di Pabrik Kopi Banaran yang sudah berdiri sejak 1911. (PRATONO/RADAR KEDU)

MASIH PRODUKTIF: Peserta heritage walk sedang mendapatkan penjelasan tentang gudang dan peralatan di Pabrik Kopi Banaran yang sudah berdiri sejak 1911. (PRATONO/RADAR KEDU)
 MASIH PRODUKTIF: Peserta heritage walk sedang mendapatkan penjelasan tentang gudang dan peralatan di Pabrik Kopi Banaran yang sudah berdiri sejak 1911. (PRATONO/RADAR KEDU)

MASIH PRODUKTIF: Peserta heritage walk sedang mendapatkan penjelasan tentang gudang dan peralatan di Pabrik Kopi Banaran yang sudah berdiri sejak 1911. (PRATONO/RADAR KEDU)

UNGARAN—Usia mesin boleh sudah tua, tapi kinerja tetap tokcer. Setiap musim panen kopi, mesin-mesin di Pabrik Kopi Banaran Desa Gemawang Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang kembali bergerak. Pabrik yang berdiri sejak 1911 ini mengolah biji kopi yang dihasilkan dari perkebunan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX.

Sabtu (29/11), sekitar 50 peserta heritage walk dengan tema Kopi : Merenda Rasa dari Masa ke Masa mengunjungi pabrik kopi Banaran. Panitia kegiatan dari Yayasan Widya Mitra Semarang Satrio Seno Prakoso menjelaskan, industri kopi memiliki sejarah panjang di Jawa Tengah. Hal itu bisa dilihat dari maraknya industri dan perdagangan kopi di masyarakat sekarang ini. “Perkembangan ini tentunya tidak terlepas dari sejarah pembudidayaan kopi di Jawa yang diawali masa kolonial Belanda,” jelasnya.

Sayangnya, saat ini musim panen kopi telah selesai. Peserta tidak bisa melihat secara langsung proses pengolahan kopi mulai panen di kebun hingga pemisahan kulit kopi yang masih menggunakan mesin-mesin tua. Proses yang bisa disaksikan mulai dari pemisahan secara manual sampai produksi bubuk kopi dengan mesin modern.“Tapi acaranya tetap bagus dan cukup informatif,” tutur salah satu peserta Dani Ristyawati.

Selain berkunjung ke pabrik kopi Banaran, peserta juga mengunjungi Rumah Kopi di Jalan Wot Gandul Barat No 12 Kota Semarang. Rumah berarsitektur art deco yang sekarang dihuni keluarga Basuki Dharmowijono ini juga memiliki sejarah besar dalam perkembangan industri kopi. Dulu, dari rumah ini dihasilkan kopi merek Margo Redjo yang diekspor dalam kemasan kaleng ke Eropa.

Kopi Margo Redjo berada pada masa kejayaan sekitar tahun 1929. Saat itu, dari sekitar 467 ton kopi yang diekspor Hindia Belanda, sekitar 200 ton berasal dari pabrik di lingkungan Pecinan ini. Ketika Jepang menduduki Jawa, kopi ini mengalami kemunduran karena mesin-mesinnya dirusak dan disita. Saat ini, Rumah Kopi masih memproduksi kopi, meski dalam skala yang tidak besar. Merek yang digunakan pun sudah berganti nama menjadi Mirama.

Di rumah yang juga dikenal dengan sebutan Rumah Kebon Karang ini juga digelar diskusi sejarah kopi di Indonesia bersama guru besar ilmu sejarah Universitas Diponegoro Prof AM Djuliati Surojo dan praktik kebaristaan bersama Suharjono. (ton/zal)