BALAI KOTA – Menyikapi hasil survei popularitas calon wali kota Semarang 2015 yang dilakukan oleh pakar politik Undip Teguh Yuwono, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tetap optimistis mengusung figur kandidat internal dalam pemilihan wali kota (pilwalkot) 2015 mendatang.

Diketahui, dari hasil survei menyebutkan sejumlah figur kandidat yang mencuat dari PKS memiliki persentase yang cukup sedikit, yakni hanya sebesar 3,5 persen. Seperti nama Zuber Syafawi, Ahmadi, dan Agung Budi Margono. ”Semua tetap optimistis, kita lihat sajalah,” ujar Ketua DPD PKS Kota Semarang Agung Budi Margono kepada Radar Semarang, kemarin (28/11).

Menurut Wakil Ketua DPRD Kota Semarang ini, survei yang dilakukan hanya sebatas popularitas saja, sehingga tidak bisa dijadikan patokan.

”Sementara yang didorong PKS mengenai adu program, adu visi, jadi tidak hanya masalah popularitas. Figur calon kepala daerah yang dibutuhkan bukan hanya sebatas popularitas saja, tapi juga program-programnya untuk menjadikan suatu daerah lebih baik,” terang Agung BM.

Disinggung mengenai figur yang akan diusung PKS dalam bursa Pilwalkot 2015 mendatang, sesuai dengan hasil pemilihan rakyat (pemira), Agung belum mau membeberkan. ”Nama sudah kita kantongi, tapi masih akan dikonsultasikan ke DPP. Nanti kalau DPP sudah mengizinkan untuk diumumkan, maka akan kita ekspose,” tandasnya.

Hal senada juga dikatakan Ketua DPC Partai Gerindra Kota Semarang Suhariyanto. Menurutnya, survei yang dilakukan hanya sebatas popularitas, bukan dari kualitas dan kapabilitasnya. Apalagi saat ini belum diputuskan oleh DPR terkait pelaksanaan Perppu kepala daerah. ”Yang penting saat ini bukan popularitas, tapi tim survei itu harusnya juga mencari sisi kualitas tokoh yang akan mengawal Kota Semarang ke depan,” katanya. ”Jangan hanya mengajak masyarakat melihat suasana populer saja. Mulai saat ini jangan sampai peneliti-peneliti menggunakan hal itu. Selain survei popularitas, harus ditampilkan kapabilitasnya,” imbuh Suhariyanto.

Menurutnya, keputusan perppu tersebut sangat memengaruhi skema pemilihan kandidat calon kepala daerah. ”Kalau (pemilihan) langsung tidak perlu popularitas, karena hanya diusung 50 orang (anggota DPRD Kota Semarang), sebaliknya popularitas akan menjadi salah satu hal yang penting jika pemilihan dilakukan langsung,” terangnya.

Disinggung mengenai figur yang akan diusung partai berlambang kepala burung Garuda itu maupun secara koalisi, Suhariyanto menjelaskan, pihaknya masih menunggu keputusan dari DPR terkait Perppu Nomor 1 Tahun 2014 tentang pemilihan kepala daerah.

”Ketika perppu digedog DPR, itu paling cepat pelaksanaannya 9 bulan. Jadi, persiapan masih nunggu, karena skema langsung dan tidak itu berbeda, kalau langsung kualitas popularitas dan elektabilitas, kalau tidak langsung butuh orang baik saja cukup,” tegasnya.

”Kemarin di Solo ada pembentukan partai koalisi tingkat provinsi untuk menghadapi pilkada di Jateng. Nanti ada aturan, cara untuk mencari, memilah, dan memilih figur yang terbaik,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, tiga figur kandidat diprediksi bakal meramaikan bursa pemilihan wali kota (pilwalkot) Semarang 2015 mendatang. Dari hasil survei yang dilakukan oleh pakar politik Universitas Diponegoro (Undip) Teguh Yuwono, tiga nama berada di papan atas, yakni incumbent Hendrar Prihadi, Ketua Komisi E DPRD Jateng Yoyok Sukawi, dan mantan Wali Kota Soemarmo Hadi Saputro. ”Ketiganya mendapat dukungan masyarakat hingga dua digit, artinya di atas 10 persen,” kata Teguh Yuwono.

Dikatakan, dukungan paling banyak memang masih pada figur Hendrar Prihadi. Posisi sebagai wali kota saat ini, menurut master ilmu politik lulusan Australia ini, ikut mendongkrak popularitasnya hingga meraih posisi puncak.
”Dukungannya sekitar 24 persen, ini angka yang bagus, karena pilwalkot kemungkinan masih akan setahun lagi dilaksanakan,” ujarnya. Di posisi kedua, Yoyok Sukawi berada di angka 20 persen dan Soemarmo meraih dukungan 18 persen. (zal/aro/ce1)