KEMBANGKAN PESISIR : Peresmian Workshop Internasional II Sato Umi-Gempita SPL (Gerakan Masyarakat Peduli Kelestarian Sumber Daya Perikanan Pesisir dan Laut)-Gapura (Gerakan Pembangunan Pantai Utara Jawa Barat) yang digelar kemarin. (HANAFI/RADAR SEMARANG)

KEMBANGKAN PESISIR : Peresmian Workshop Internasional II Sato Umi-Gempita SPL (Gerakan Masyarakat Peduli Kelestarian Sumber Daya Perikanan Pesisir dan Laut)-Gapura (Gerakan Pembangunan Pantai Utara Jawa Barat) yang digelar kemarin. (HANAFI/RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN – Berada di pesisir pantura dan banyak memiliki kendala dengan banjir dan rob, Kota Batik malah akan menjadi percontohan penerapan konsep Sato-Umi dari Jepang untuk mengelola sumber daya perikanan dan kelautan berkelanjutan untuk wilayah Jawa Tengah. Sehingga tambak-tambak yang terbengkalai dan tidak produktif nantinya akan dikelola menjadi tambak produkif sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat pesisir.

“Kota Pekalongan akan menjadi model percontohan konsep Sato-Umi dan nantinya akan dikembangkan ke daerah lain,” terang Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Suhendar Indrakoesmaya pada acara Workshop Internasional II Sato Umi-Gempita SPL (Gerakan Masyarakat Peduli Kelestarian Sumber Daya Perikanan Pesisir dan Laut) – Gapura (Gerakan Pembangunan Pantai Utara Jawa Barat)
di Hotel Sahid Mandarin, Rabu (26/11).

Workshop Internasional tersebut bertema “Diseminasi Konsep dan Model Baru Pengembangan Budidaya Perikanan Secara Berkelanjutan di Wilayah Pesisir Melalui Pendidikan, Pelatihan dan Inovasi Teknologi”. Suhendar menjelaskan, konsep Sato (desa atau komunitas) – Umi (pesisir) tidak hanya menggunakan pendekatan teknologi, tetapi juga ekonomi dan ekologi. Konsep ini diperkenalkan oleh Profesor Tetsuo Yanagi dari Kyushu University Jepang. Yang mencakup Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) berbasis sistem bioresirkulasi untuk lahan tambak terbengkalai.

Lebih lanjut Suhendar menjelaskan, jika sebelumnya dalam satu tambak atau lahan hanya ada satu komoditas, nantinya dalam satu tambak bisa dimanfaatkan untuk empat komoditas sekaligus. Misalnya udang, kerang, kepiting atau ikan serta rumput laut.

Menurut dia, budidaya perikanan dengan konsep Sato – Umi bisa lebih produktif dan tidak menghasilkan limbah. “Dengan konsep Sato – Umi, tidak ada lagi limbah, zero waste,” tegasnya. Karena dengan teknologi IMTA, limbah organik maupun anorganik yang berasal dari sisa pakan ikan dan kotoran hewan yang selama ini merusak lingkungan pesisir bisa diminimalisir dan dijadikan sebagai pupuk yaitu untuk rumput laut. Sehingga kawasan tersebut bisa terjaga dengan baik kualitas perairannya. Dengan demikian, produktifitas bisa tetap terjaga secara berkelanjutan.

Wali Kota Pekalongan, M Basyir Ahmad menyambut baik penerapan konsep Sato – Umi di Kota Pekalongan. Pasalnya sejak tahun 1990, banyak lahan yang terintrusi air laut sebagai dampak dari perubahan iklim. Hingga saat ini, kata dia, lahan yang terinstrusi air laut mencapai 400 hektare. “Kondisinya cukup parah,” tandasnya.

Untuk itu Basyir berharap, dengan diterapkannya konsep Sato – Umi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pesisir Kota Pekalongan. Konsep tersebut sudah sukses diterapkan di Jepang, Filipina dan Guatermala. Sedangkan di Indonesia, telah diterapkan di Karawang (Jawa Barat), Bantaeng (Sulawesi Selatan), Anambas (Kepulauan Riau) dan
Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan). Workshop Internasional hari itu menghadirkan langsung Profesor Tetsuo Yanagi pencipta konsep Sato – Umi dari Jepang. Selain itu juga menghadirkan Mitsutaku Makino dari The North Pacific Marine Science Organization (PICES) dan Kepala BPPT Unggul Priyanto. (han/ric)