Rela Capek Berdiri dengan Satu Kaki

176
DEMI UANG : Penyandang disabilitas ikut antre berdiri bersama warga lain untuk mengambil dana PSKS di Kantor Pos Magelang kemarin (27/11). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
 DEMI UANG : Penyandang disabilitas ikut antre berdiri bersama warga lain untuk mengambil dana PSKS di Kantor Pos Magelang kemarin (27/11). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

DEMI UANG : Penyandang disabilitas ikut antre berdiri bersama warga lain untuk mengambil dana PSKS di Kantor Pos Magelang kemarin (27/11). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

Beberapa penyandang difabel merasa kelelahan setelah ikut mengantre berjam-jam bersama penerima bantuan Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) lainnya di Kantor Pos Magelang, Kamis, (27/11). Mereka harus merasakan panasnya terik matahari dan jalan merayap untuk bisa mengambil bantuan dana dari pemerintah itu.

Saryadi, 57, warga Malanggaten, Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Tengah, merasa capek harus ikut mengantre. “Capek sekali. Kaki sudah keju-keju (ngilu, Red),” rintih penyandang disabilitas ini.

Pria yang kehilangan kaki kirinya akibat kecelakaan itu menyayangkan pihak panitia yang tak memberikan jalur sendiri bagi difabel dan ibu hamil. “Saya tahan rasa sakit ini demi uang itu. Buat makan sehari-hari,” ucapnya sambil memegang tongkat.

Hal serupa di rasakan oleh Budi Pramono, 59, yang kebingungan mencari tempat duduk dan mulai dari mana jika harus mengantre. Pasalnya, tubuhnya tak lagi kuat untuk berjalan dan berdiri. Dia memiliki riwayat penyakit syaraf yang membuat tubuhnya membungkuk dan jalannya ngangkang.

“Saya ke sini sendiri diantar tetangga lalu ditinggal. Saya punya dua anak tapi tidak peduli dengan kehidupan saya. Yang satu ikut suaminya, satunya lagi kerja di Singapura namanya Dwi Astuti, tapi sudah dua tahun tidak ada kabar ataupun kirim uang. Kulo mboten ngertos (saya tidak tahu) kabar anak saya gimana,” tuturnya sambil berlinang air mata.

Rencananya, bantuan itu akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebab, dia sudah tak mampu bekerja dan hanya diberi makan dari tetangga-tetangganya. “Alhamdulillah saya dapat bantuan ini. Mau saya ambil semuanya,” aku warga Nambangan, Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Tengah itu.

Tak berapa lama setelah difabel itu diwawancara sejumlah media, panitia mengambil kebijakan untuk mendahulukan difabel dan orang dengan sakit parah seperti stroke untuk mendapatkan pelayanan pertama. Sebetulnya, pihak panitia sudah mendirikan tenda dan menyediakan kursi untuk warga yang mengantre, namun kenyataannya tak sebanding dengan penerima PSKS itu.

Sementara itu, Kepala Kantor Pos Magelang, Agus Sulistyo mengatakan, pencairan dana PSKS di Kota Magelang dijadwalkan selama 6 hari untuk melayani 4.501 rumah tangga sasaran (RTS). Tiap hari melayani 3 kelurahan kecuali hari Selasa yakni dua kelurahan. Waktunya cukup longgar dari pukul 08.00 pagi sampai 14.00 siang.

“Kami berupaya membuat kemudahan dan kenyamanan dalam mengambil dana ini, seperti pemasangan tenda agar tidak kehujanan atau kepanasan dan diberi kartu antrean,” jelasnya saat dihubungi.

Sebagaimana diketahui, dana bantuan PSKS sebesar Rp 400 ribu adalah wujud kompensasi pemerintah akibat dampak kenaikan BBM. Namun pantauan koran ini, masih ada beberapa penerima yang tidak tepat sasaran. Misalnya memiliki smartphone, memakai perhiasan emas dan memiliki sepeda motor baru dan bagus. (put/lis)