BALAI KOTA – Tiga figur kandidat diprediksi bakal meramaikan bursa pemilihan wali kota (pilwalkot) Semarang 2015 mendatang. Dari hasil survei yang dilakukan oleh pakar politik Universitas Diponegoro (Undip) Teguh Yuwono, tiga nama berada di papan atas, yakni incumbent Hendrar Prihadi, Ketua Komisi E DPRD Jateng Yoyok Sukawi, dan mantan Wali Kota Soemarmo Hadi Saputro. ”Ketiganya mendapat dukungan masyarakat hingga dua digit, artinya di atas 10 persen,” kata Teguh Yuwono.

Dikatakan, dukungan paling banyak memang masih pada figur Hendrar Prihadi. Posisi sebagai wali kota saat ini, menurut master ilmu politik lulusan Australia ini, ikut mendongkrak popularitasnya hingga meraih posisi puncak.
”Dukungannya sekitar 24 persen, ini angka yang bagus, karena pilwalkot kemungkinan masih akan setahun lagi dilaksanakan,” ujarnya.

Di posisi kedua, Yoyok Sukawi berada di angka 20 persen dan Soemarmo meraih dukungan 18 persen. Munculnya nama Soemarmo, menurut Teguh Yuwono, cukup mengejutkan, mengingat kasus suap yang pernah menjeratnya.

Hanya apakah Soemarmo bisa mencalonkan diri lagi atau tidak mengingat aturan dalam pilkada belum ada kejelasan, apakah menggunakan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No 1/ 2014 yang ditandatangani Presiden SBY atau UU Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Dalam UU itu disebutkan bahwa pemilihan bupati/wali kota dan gubernur kembali melalui DPRD. Misalnya, aturan membolehkan Soemarmo kembali maju maka kekuatannya wajib diperhitungkan oleh semua kontestan. Sedangkan Yoyok Sukawi ditopang oleh figur ayahnya Wali Kota Semarang periode 2000-2010 Sukawi Sutarip. “Mas Yoyok punya track record bagus, kalau dia maju tentu bisa menjadi kuda hitam,” tandasnya.

Calon lain seperti Ahmadi, Agung Budi Margono, Zuber Syafawi, Suharyanto, Rudi Nurrahmat, dan lain sebagainya, menurut Teguh, memiliki angka dukungannya sangat kecil. Paling tinggi 3,5 persen seperti yang diraih Zuber Syafawi. ”Lainnya kecil, semuanya di bawah Pak Zuber,” ucap Teguh.

Meski demikian, Teguh mengingatkan agar para kandidat tidak perlu berkecil hati karena masih ada waktu setahun untuk persiapan pilwalkot. Selain itu, masa jabatan Hendrar Prihadi akan habis pada 19 Juli 2015, sedangkan pilwalkot diperkirakan baru bisa dilaksanakan Oktober-November 2015. ”Jadi ada jeda dua bulan lebih, nanti kekosongan jabatan wali kota akan diisi oleh Pjs wali kota,” ucapnya.

Terpisah, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengucapkan terima kasih atas hasil survei yang menyebutkan dirinya menduduki peringkat teratas terkait bursa calon wali kota 2015 mendatang. ”Kami sebagai kader partai menunggu perintah pimpinan. Yang paling penting sekali saat ini tugas dan amanah saya sebagai wali kota belum selesai. Lebih baik berkonsentrasi menyelesaikan tugas-tugas tersebut,” katanya.

”Lagian pilwalkot-nya masih satu tahun lagi. Kenapa dipikirkan sekarang. Jadi, biar pengamat politik saja yang berbicara, itu hak mereka. Tapi, buat saya pribadi akan menyelesaikan tugas-tugas sekarang,” imbuhnya.

Disinggung mengenai calon lain yang muncul, utamanya dua nama yang memiliki dukungan lebih dari 10 persen dari masyarakat (hasil survei), seperti Yoyok Sukawi dan Soemarmo HS, Hendi –sapaan akrabnya— tidak mempersoalkan.

”Justru saya dukung jika ada kandidat yang memang mampu dan kuat (maju pilwalkot). Mereka kan juga memiliki tujuan membangun Kota Semarang menjadi lebih baik, jadi harus kita dukung,” tandasnya.

Sementara mantan Wali Kota Semarang Soemarmo HS mengaku terkejut mendengar namanya masuk dalam tiga kandidat kuat bursa pemilihan Wali Kota Semarang 2015 mendatang.

”Subhanallah…jujur saya memang belum membaca hasil survei itu. Saya tidak mengira sama sekali ada survei yang mengatakan saya masuk dalam bursa calon wali kota 2015, saya benar-benar tidak menyangka,” terang Soemarmo kepada Radar Semarang, kemarin (27/11).

Menyikapi hal itu, Soemarmo mengaku belum berpikir maju dalam pilwalkot. Namun pihaknya juga tidak menampik akan maju jika memang diberi jalan dan kesempatan untuk memimpin Kota Semarang kembali.

”Kalau berbicara pilwalkot 2015, saya harus benar-benar pikirkan dengan matang. Saya akan bicarakan dengan istri dan anak saya. Yang tidak kalah pentingnya saya akan minta petunjuk kepada Allah, apakah saya diperkenankan dan dipercayakan lagi memimpin masyarakat Kota Semarang. Bagi saya itu harus saya lakukan,” ujarnya.

”Bahasa orang muslim itu istikharah dulu, bagaimana petunjuk-Nya. Kalau saya niat, tapi Allah tidak mengizinkan, ya tidak saya terjang. Tapi sebaliknya, kalau mengizinkan, berarti saya harus berikhtiar maju pilwalkot, dengan catatan masyarakat menghendaki. Kalau pun saya kepengin (maju), masyarakat tidak menginginkan ya akan sia-sialah, untuk apa (maju),” tegasnya.

Menurutnya, hal itu akan menyakiti diri sendiri dan orang lain. Bahkan dia menyadari dalam berpolitik dan maju sebagai calon pemimpin daerah itu ada yang senang dan tidak. ”Seperti pengalaman 2010 lalu bekas-bekas itu masih ada walaupun hal itu sudah saya hilangkan,” katanya.

Disinggung apakah sudah ada partai politik (parpol) yang memberi tawaran atau sebaliknya dirinya mendekat pada partai tertentu, Soemarmo menjawab normatif.

”Saya jarang berkomunikasi dengan partai-partai. Tapi kalau person-person banyak. Kalau ada yang bertanya ya saya jawab seperti tadi. Dari masyarakat ada yang mendukung, baik kecil, menengah atau dasar,” ujar Soemarmo yang getol menghadiri kegiatan sosial itu. ”Saya menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kota Semarang yang punya perhatian kepada saya,” pungkasnya.

Ketua KPU Kota Semarang Hendry Wahyono mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum melakukan apa-apa terkait pelaksanaan Pilwakot Semarang 2015. Hal itu karena masih menunggu pembahasan Perppu oleh DPR. ”Ya kita tunggu saja pembahasan Perppu-nya,” tandasnya. (zal/aro/ce1)