Tuding Mandiri Manipulasi Data

182


”Kami menduga pihak Bank Mandiri menyembunyikan data itu. Data yang diberikan kepada kami pada tahun 2010 itu diduga ada manipulasi.”


Widiyanto Agung Widodo

Pelapor

SEMARANG – Kasus dugaan pembobolan rekening nasabah Bank Mandiri senilai Rp 8 miliar, membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus turun tangan. Pihak OJK bahkan sudah melakukan klarifikasi dengan pihak Bank Mandiri.

Dalam kasus yang menyebutkan adanya kehilangan dana di rekening nasabah senilai Rp 8 miliar itu, OJK menyatakan jika Bank Mandiri sudah sesuai prosedur dalam menangani kasus tersebut.

Kepala Kantor OJK Regional IV Jateng dan DI Jogjakarta, Y. Santoso Wibowo mengatakan, permasalahan tersebut merupakan kasus lama. Hasil rekam data menunjukkan, pada 2001 nasabah atas nama Sri Rahayu Binti Soemoharmanto membuka rekening di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di Jalan Pemuda No 73 Semarang.

”Beberapa waktu kemudian, masih sekitar tahun 2001 ada dana masuk senilai Rp 8 miliar. Namun, dana tersebut dipecah pada 2 rekening dengan nama yang sama di Bank Mandiri,” katanya saat ditemui Radar Semarang di sela acara Kadin Awards, di Hotel Oak Tree Semarang, kemarin (26/11).

Menurut Santoso, saat itu nasabah memasukkan uang masing-masing Rp 5 miliar dan Rp 3 miliar dalam 2 rekening tersebut. Untuk rekening yang berisi Rp 5 miliar, habis dalam waktu 2 bulan pengambilan oleh nasabah yang bersangkutan.

”Untuk rekening yang berisi Rp 3 miliar, terus-menerus diambil atas nama nasabah tersebut, dan habis di tahun 2006,” ungkapnya.

Pemilik rekening, lanjut Santoso, Sri Rahayu diketahui baru meninggal pada 2010. Dengan begitu, uang senilai Rp 8 miliar sudah diambil oleh pemilik rekening, yang diketahui juga bersama dengan anak-anaknya.

”Kalau dari hasil klarifikasi dengan Bank Mandiri dan dari data kami seperti itu kronologinya,” ujarnya.

Terkait kasus lanjutan dugaan pembobolan uang senilai Rp 375 miliar dengan nasabah KPH Soemoharmanto ayah Sri Rahayu yang juga paman Ibu Tien Soeharto, Santoso mengaku belum mengetahui. Khusus untuk itu, pihaknya akan mendalami kembali, membuka data dan akan mengklarifikasi lagi dengan Bank Mandiri.

”Yang saya tahu kasus yang muncul itu soal uang Rp 8 miliar. Kalau yang Rp 375 miliar saya belum tahu. Nanti coba saya cek dulu,” tandasnya.

Terkait hasil kesimpulan OJK tersebut, pihak pelapor, Widiyanto Agung Widodo langsung menanggapi. Menurut dia, pernyataan hasil rekam data yang menunjukkan pada 2001 nasabah atas nama Sri Rahayu Binti Soemoharmanto membuka rekening di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di Jalan Pemuda No 73 Semarang, tidak berdasar fakta yang terjadi.

”Itu tidak benar. Ibu saya (Sri Rahayu, Red) tidak pernah mengambil ataupun membuka rekening di Bank Mandiri,” tandasnya.

Menurutnya, penjelasan OJK itu keterangan sepihak. OJK sebaiknya tidak buru-buru mengambil kesimpulan. ”Seharusnya OJK menelusuri siapa yang tanda tangan, apa benar keterangan yang diberikan oleh pihak Bank Mandiri. Harusnya ada penelaahan dan pengkajian mendalam. Jelas, itu keterangan sepihak,” ungkap Widiyanto.

Lebih lanjut kata Widiyanto, pencairan tersebut sarat dengan manipulasi dan rekayasa. Jika benar, Sri Rahayu membuka rekening di Bank Mandiri untuk kepentingan apa? Tidak ada.

”Ibu saya pada waktu itu sedang sakit. Kondisinya, maaf, menggunakan kursi roda atau sulit berjalan. Apa benar melakukan pencairan rekening di Bank Mandiri?” ujarnya mempertanyakan.

Pihaknya menyebut, pada 2001, memang ada seorang karyawati Bank Mandiri bernama Peni Widiastuti datang ke rumah ibunya. ”Kedatangan tersebut untuk memberitahukan kalau akan ada masukan dana besar,” katanya.

Mengenai dua rekening atas nama Sri Rahayu, Widiyanto juga mengaku baru mendengar. Pasalnya, pada 2010, saat pihaknya meminta print out resmi terkait data transaksi di Bank Mandiri, telah dijelaskan oleh pihak bank. ”Bahwa pihak Bank Mandiri melalui seorang costumer service menjelaskan tidak ada rekening lain, hanya satu rekening atas nama Ibu Sri Rahayu,” jelasnya.

Dia meminta, penjelasan terkait transaksi harus berdasarkan data lengkap, siapa, kapan, tanggal, bulan, tahun dan lain-lain. ”Seharusnya OJK jangan buru-buru menyimpulkan,” tandasnya.

Sebelumnya, berdasarkan data transaksi yang diperoleh pihak pelapor pada 2010, pihak korban menemukan sejumlah kejanggalan. Di antaranya, banyak data yang meloncat-loncat. Data dari Bank Mandiri itu masih perlu diteliti dan dikaji. Bahkan, dana asupan yang masuk pada Juni 2001 senilai ratusan miliar warisan KPH Soemoharmanto, diduga hilang misterius pada Juni 2001 juga. Sebab, pada Juni itulah dilakukan pembagian warisan ratusan miliar tersebut.

”Kami menduga pihak Bank Mandiri menyembunyikan data itu. Data yang diberikan kepada kami pada tahun 2010 itu diduga ada manipulasi,” tudingnya.

Seperti diketahui, misteri harta warisan berupa uang ratusan miliaran rupiah milik paman Ibu Tien Soeharto (istri mantan Presiden Soeharto, Red), Dr KPH Soemoharmanto yang diwariskan kepada anak-anaknya hilang di rekening Bank Mandiri. Uang ratusan miliar rupiah itu diduga raib misterius di rekening milik salah satu nasabah Bank Mandiri Semarang atas nama almarhumah Sri Rahayu sebagai ahli waris Soemoharmanto. (dna/mg5/aro/ce1)