SOSIALISASI TARIF: Salah satu petugas Dinas Perhubungan Kota Semarang menempel stiker mengenai kenaikan tarif transportasi di sejumlah angkot di Kota Semarang. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)

SOSIALISASI TARIF: Salah satu petugas Dinas Perhubungan Kota Semarang menempel stiker mengenai kenaikan tarif transportasi di sejumlah angkot di Kota Semarang. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pasca kenaikan BBM, para sopir mikrolet dan metromini mengeluhkan ongkos tarif pelajar yang tidak dinaikkan. Hal itu dirasa memberatkan bagi para sopir.

Fajar, 30 sopir trayek R11E, jalur Johar Penggaron Citarum mengakui tarif kenaikan untuk transportasi pelajar sangat memberatkan para pengemudi. ”Kalau kenaikan pada tarif umum lainnya sudah bagus. Cuma pelajar tidak mengalami kenaikan. Padahal banyak pelajar yang naik dari awal hingga penurunan akhir. Kalau bayarnya tetap, pendapatan kami tidak bisa nutup setoran. Apalagi bawa pulang,” keluhnya kepada Radar Semarang, Rabu, (26/11) kemarin.

Menurutnya, tidak naiknya tarif khusus pelajar dianggap para sopir yang menanggung beban subsidi pelajar. Padahal para sopir harus menanggung beban kebutuhan setoran, uang makan serta kebutuhan keluarga.

”Sama saja subsidi pelajar yang menanggung para sopir. Paling tidak tarif pelajar ada kenaikan sebesar Rp 500-Rp 1.000. Jadi bisa menutup setoran. Sehari saja BBM habis Rp 200 ribu. Belum setoran Rp 70 ribu. Terus untuk kebutuhan yang saya bawa pulang berapa?” imbuhnya.

Sementara itu, Kabid Transportasi Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, Ambar Prasetya mengakui tarif transportasi untuk pelajar tidak mengalami kenaikan. Sementara tranportasi mikrolet, bus mini, Damri dan taksi mengalami kenaikan. ”Jadi kami melakukan penempelan berupa stiker di pintu transportasi. Dalam tulisan stiker itu tertera tarif yang resmi yang sudah diberlakukan sejak 19 November lalu. Sebab selama ini banyak masyarakat yang kurang tahu,” terangnya.

Menurutnya, dengan adanya sosialisasi kenaikan tarif dengan cara menempelkan stiker pada setiap pintu transportasi umum, agar masyarakat mengetahui tarif resmi. Dengan demikian, pihak penumpang dan pengemudi bisa memahami tarif resmi yang sudah diberlakukan.

”Jadi para sopir diharapkan tidak menarik ongkos seenaknya. Selain itu para penumpang juga mengetahui ongkos tarif yang resmi. Sehingga penumpang bisa melakukan protes apabila sopir menarik ongkos tidak sesuai tarif itu,” ujanrnya.

Meski demikian, masih banyak pengemudi yang enggan dipasangi stiker. Namun pihaknya bersikeras akan melakukan penempelan supaya masyarakat tidak dirugikan. ”Banyak pengemudi yang protes dan melakukan penolakan. Tetapi kami harus memberi penjelasan dan pengemudi harus menaati peraturan. Target kami satu minggu ini selesai. Ada sekitar 1.000 lebih transportasi yang harus ditempeli. Saat ini yang kami lakukan di Penggaron, Johar
Mangkang. Nanti selanjutnya semua rute tengah kota barat selatan timur,” paparnya.

Pihaknya juga akan melakukan pemantauan terus kepada tranportasi terkait sosialisasi penempelan stiker. Pihaknya juga akan memberikan peringatan keras kepada transportasi yang tidak mematuhi peraturan. ”Sanksi pertama dan kedua peringatan. Untuk sanksi ketiga akan ditindak,” pungkasnya. (mg9/ida/ce1)