TEKAN POPULASI: Kucing dan anjing tidak merasa kesakitan ketika disterilisasi. Selain untuk mengendalikan populasi, cara ini terbukti mampu mengurangi risiko hewan terkena virus mematikan. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

TEKAN POPULASI: Kucing dan anjing tidak merasa kesakitan ketika disterilisasi. Selain untuk mengendalikan populasi, cara ini terbukti mampu mengurangi risiko hewan terkena virus mematikan. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Keberadaan hewan peliharaan seperi anjing dan kucing dirasa kerap menganggu lingkungan bagi yang tinggal di daerah perkampungan. Padahal, perkembangbiakan kedua mamalia ini terbilang cepat. Karena itu, untuk mengontrol populasi mereka, bisa dilakukan lewat sterilisasi.

Menanggapi fenomena ini, Manager Golden Petshop Winny Sanita menuturkan, ada solusi yang bisa dipilih selain membuang anak-anak kucing dan anjing. Salah satunya melambatkan proses reproduksi dengan sterilisasi. “Melemparkan kedua jenis hewan tersebut yang masih kecil seperti di pasar, pinggir sungai, dan tempat-tempat lain bukan solusi. Justru malah membuat hewan tersebut lebih liar dan populasinya tidak bisa dikendalikan,” ungkapnya.

Menurutnya, proses sterilisasi tidak menyakitkan dan hanya membutuhkan waktu maksimal 40 menit. “Kami ingin memberi kesempatan sterilisasi ini kepada siapa saja atau masyarakat luas yang memang ingin mensteril kucing dan anjing peliharaannya. Jangan khawatir, porses ini tidak menyiksa hewan,” katanya.

Soal biaya, Winny mengakui, sterilisasi kucing dan anjing memang cukup mahal. Biasanya dibandrol mulai dari Rp 150.000 hingga jutaan rupiah per ekor tergantung jenisnya. “Rata-rata untuk menyeterilisasi satu ekor saja bisa mencapai Rp 500.000. Itu yang membuat para pemilik kucing dan anjing keberatan dengan biaya tersebut, pemerintah juga seharusnya memperhatikan hal ini. Jika tidak jumlah kucing dan anjing bisa banyak seperti di Jakarta, Bali dan Bandung,” ujarnya.

Hingga saat ini, tercatat sudah ratusan para pemilik kucing atau anjing yang menyeterilkan herwan peliharaan mereka di tempat Winny. “Hingga saat ini kesadaran seseorang untuk mensteril kucing dan anjing sudah mulai terbuka, bahkan terkadang kuota tidak dapat memenuhi permintaan yang ada. Namun masih perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat dan diperlukan peran pemerintah,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, sterilisasi kucing dan anjing itu bertujuan ganda. Selain untuk mengurangi populasi kucing, juga sebagai salah satu cara untuk melindungi satwa dan mencegah penyakit. Dia menerangkan, tingginya populasi kucing dan anjing bisa mengganggu kesehatan lingkungan. Kedua hewan tersebut dapat menularkan berbagai penyakit kepada manusia (zoonosis, Red) seperti rabies dan toxoplasmosis. (mg16/smu)