DISELUNDUPKAN : Wakapolres Demak Kompol Yani Permana didampingi Kasubag Humas AKP Zamroni saat gelar perkara kasus penyelundupan pupuk bersubsidi di Mapolres Demak, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)
 DISELUNDUPKAN : Wakapolres Demak Kompol Yani Permana didampingi Kasubag Humas AKP Zamroni saat gelar perkara kasus penyelundupan pupuk bersubsidi di Mapolres Demak, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)

DISELUNDUPKAN : Wakapolres Demak Kompol Yani Permana didampingi Kasubag Humas AKP Zamroni saat gelar perkara kasus penyelundupan pupuk bersubsidi di Mapolres Demak, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)

DEMAK – Polres Demak akhirnya menetapkan dua tersangka dalam kasus dugaan penyelundupan pupuk bersubsidi. Yakni, Suka Permana, 35, warga Desa Sidomukti Kecamatan Margoyoso, Pati, dan Purwanto, 50, warga Geyer, Grobogan. Polisi juga mengamankan barang bukti (BB) berupa truk nopol K 1917 GA dengan muatan pupuk subsidi seberat 7 ton atau 140 karung pupuk.

Selain itu, truk K 1310 YF bermuatan 10 ton pupuk subsidi atau 200 zak atau karung. Wakapolres Demak Kompol Yani Permana menguangkapkan, Suka Permana ditetapkan sebagai tersangka karena telah memperjualbelikan pupuk subsidi jenis urea kepada yang bukan peruntukannya. Tersangka diketahui membeli pupuk dari Timur, warga Desa Jatirogo, Kecamatan Bonang. Sedangkan, Timur mendapatkan pupuk dari Masrukin, yakni pengecer resmi pupuk subsidi dari Desa Kedondong, Kecamatan Demak Kota.

Menurut Wakapolres, transaksi dilakukan dua kali, yaki pada 10 November 2014 dan 18 November dengan harga berbeda. Transaksi pertama sebanyak 4 ton dengan harga dari Masrukin (pengecer) dijual dengan harga Rp 105 ribu kepada Timur. Kemudian, Timur menjualnya dengan harga Rp 109 ribu. Dari hasil transaksi itu, tersangka Suka Permana mengambil keuntungan sebesar Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu per zak setelah di jual kepada petani di Pati.

Tersangka membayar pupuk ke Timur melalui transfer ke rekening beberapa hari kemudian. Transaksi kedua sebanyak 7 ton. Masrukin menjual dengan harga Rp 107 ribu kepada Timur. Timur lalu menjual ke tersangka sebesar Rp 111 ribu. Tersangka sendiri mengambil keuntungan Rp 7 ribu per zak. Tersangka di jerat karena berposisi selaku pihak selain produsen, distributor dan pengecer dengan menjual pupuk subsidi di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp 90 ribu per zak.

“Kita selidiki kasus ini setelah truk pemuat pupuk subsidi ini ditangkap di Desa Wonoketingal, Kecamatan Karanganyar dengan kejadian perkara di Desa Kedondong, Kecamatan Demak,” ujar Wakapolres didampingi Kasubag Humas AKP Zamroni, kemarin. Sementara itu, kasus penyelundupan pupuk subsidi dengan tersangka Purwanto diketahui setelah yang bersangkutan melakukan pelanggaran serupa. Truk dengan nopol K 1310 YF ditangkap setelah memuat pupuk tersebut tidak dilengkapi dengan surat pengambilan barang atau surat pengantar yang dikeluarkan oleh Gudang Penyangga Pupuk (GPP) Urea Brumbung, Mranggen.

Dalam penyelidikan polisi terungkap, tersangka Purwanto sengaja membeli pupuk urea 200 zak atau seberat 10 ton dari gudang Brumbung Mranggen melalui perantara Cahyo. Cahyo sendiri mendapatkan pupuk dari Alfan. Lalu, pupuk itu dijual tersangka di wilayah Grobogan dengan harga Rp 120 ribu per zak. Namun, belum sampai lokasi truk pemuat pupuk sudah ditangkap Polsek Kebonagung Demak. Dalam pemeriksaan, tersangka membeli pupuk dari Cahyo dengan harga Rp 22,4 juta atau Rp 112 ribu per zaknya. Sedangkan, Cahyo membeli dari Alfan dengan harga Rp 107 ribu per zak.
Tersangka membayar Cahyo melalui Tulis, yakni sopir Cahyo secara tunai dan Cahyo membayar pupuk ke Alfan melalui Tulis, sopir Cahyo di gudang pupuk Brumbung, Mranggen. “Tersangka melakukan aktivitas jual beli pupuk tanpa izin sudah kali kedua dengan modus yang sama. Kini, masih dalam penyidikan Reskrim Polres Demak,” ujar Wakapolres. Terkait kejadian ini, para tersangka diduga telah berani melanggar UU Darurat RI Nomor 7/1955 dengan acaman hukuman 2 tahun penjara. (hib/ric)