Diduga Jadi ATM Penyidik

187

SEMENTARA terkait mandeknya pengusutan kasus sengketa pembagian ahli waris almarhum Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Soemoharmanto hingga 9 tahun di Polda Jateng, menyisakan tanda tanya besar. Dugaan-dugaan miring pun kemudian menyeruak, mulai adanya dugaan persekongkolan penyidik Ditreskrimum Polda Jateng sendiri hingga adanya dugaan permainan elite perbankan. Bahkan sempat menyeruak isu miring bahwa terlapor yang merupakan para pengusaha tajir, dalam kasus ini dijadikan ’ATM’ (mesin uang, Red) oleh penyidik, hingga membuat kasus itu mangkrak.

Pasalnya, sejak dilaporkan di Ditreskrimum Polda Jateng, 16 Mei 2005 silam, dengan nomor LP/137/VII/2005/Reskrim, kasus ini terkesan ’digantung’. Misteri uang miliaran warisan KPH Soemoharmanto, pengusaha yang masih paman Ibu Tien Soeharto ini, tak terpecahkan.

Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Hamidah Abdurrahman mengatakan, pihaknya menyesali terhadap kinerja penyidik Ditreskrimum Polda Jateng yang menangani kasus hingga mangkrak 9 tahun. ”Jangan sampai kasus ini tidak terungkap, apalagi kedaluwarsa,” kata Hamidah saat dihubungi Radar Semarang, Selasa (25/11).

Hamidah menegaskan, Kompolnas men-support kepada Ditreskrimum Polda Jateng agar membuka kembali kasus tersebut dan mengungkap hingga tuntas. ”Harus dicari apa masalahnya, apa kendalanya, hingga menyebabkan kasus tersebut mangkrak 9 tahun,” ujarnya.

Mengenai dimungkinkannya ada penyidik ’nakal’ yang diduga memanfaatkan tersangka ataupun terlapor dalam kasus ini, untuk dijadikan ’ATM’, Hamidah menyarankan, pelapor diminta melaporkan saja ke Kompolnas.

”Jika memang ada dugaan, atau ditemukan indikasi adanya penyidik nakal, silakan saja melapor ke Kompolnas. Tulis, siapa nama penyidiknya. Nanti kami bersama tim Irwasum (Inspektorat Pengawasan Umum, Red) Mabes Polri akan turun (di Mapolda Jateng, Red),” tandasnya.

Dikatakan Hamidah, penyidik Ditreskrimum seharusnya bisa menyelesaikan kasus ini hingga tuntas. Terlebih kasus ini sudah ditetapkan tersangka. Apalagi jika tersangka ada.

”Pernah dulu di Polrestabes Semarang ada kasus serupa, yakni pembobolan rekening Bank BCA, kalau tidak salah 2011, kan tidak terungkap. Saat itu tersangkanya tidak ada. Kalau ini tersangka ada, harusnya terungkap hingga tuntas,” tandasnya.

Permasalahan pokok dalam kasus ini adalah, uang bagian warisan dari KPH Soemoharmanto yang diduga telah masuk di rekening Sri Rahayu (salah satu ahli waris), raib misterius. Berapa nilainya?

Berdasarkan keterangan versi pelapor Widiyanto Agung Widodo, 49, warga Jalan Teuku Umar No 105 A RT 2 RW 4 Kelurahan Tinjomoyo, Banyumanik Semarang, inventarisasi harta KPH Soemoharmanto pada tahun 1980 senilai Rp 375 miliar. Uang itu seharusnya dibagi ke tiga ahli waris, masing-masing Sri Rahayu, Sri Hartoko, dan Maria Ardhita. Namun setelah dibagi, justru uang bagian Sri Rahayu raib misterius. Diduga, raibnya uang tersebut di rekening bernomor 135-00-1140118 milik Sri Rahayu, nasabah Bank Mandiri Semarang, kemudian dipindahkan ke rekening lain.

Dalam kasus ini (dilaporkan ke Polda Jateng pada 2005) terlapornya tiga orang, yakni Sri Hartoko, Suyadi dan Ivan Hartawan. Ivan Hartawan sendiri telah ditetapkan tersangka terkait dugaan tindak pidana pemalsuan surat, penipuan dan penggelapan. Ivan dalam kasus ini selaku orang yang diberi mandat atau surat kuasa dalam pembagian warisan bernilai ratusan miliar tersebut. Namun kemudian kasus tersebut mangkrak hingga 9 tahun.

Tidak diketahui secara jelas, alasan kenapa dua terlapor lainnya ’dilepaskan’. ”Kasus ini sarat dengan intrik dan persekongkolan, baik di tingkat penyidik kepolisian Polda Jateng, maupun di lingkup perbankan,” kata pelapor, Widiyanto kepada wartawan.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jateng, Kombes Pol Purwadi saat dikonfirmasi belum bisa menjelaskan secara detail kasus ini. ”Saya baru pulang dari acara, belum sempat menanyakan ke penyidik. Nanti ya,” ujarnya saat dihubungi melalui ponselnya. (mg5/aro/ce1)