Lindu Aji Geruduk PT Cendratex

515
BERSITEGANG: Masa Lindu Aji berusaha masuk menemui pemilik perusahaan PT Cendratex di Pringapus, Kabupaten Semarang, Senin (24/11). (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
BERSITEGANG: Masa Lindu Aji berusaha masuk menemui pemilik perusahaan PT Cendratex di Pringapus, Kabupaten Semarang, Senin (24/11). (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
BERSITEGANG: Masa Lindu Aji berusaha masuk menemui pemilik perusahaan PT Cendratex di Pringapus, Kabupaten Semarang, Senin (24/11). (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN– Sekitar 100 orang anggota Lindu Aji Semarang menduduki PT Cendratex Indah Busana di Jalan Syeh Basyarudin, Pringapus, Kabupaten Semarang, Senin (24/11). Mereka minta pemilk perusahaan garmen ini menemui mereka terkait sengketa lahan milik Ny Sumariyah, 60.

Masa Lindu Aji yang menggunakan kaos hitam dengan logo organisasi ini berusaha masuk kantor perusahaan, mereka bermaksud menemui pemilik perusahaan. Namun petugas keamanan hanya mengizinkan keluarga Sumariyah dan pengacaranya yang bisa bertemu dengan perwakilan perusahaan.

Menurut pengacara Sumariyah, Toni Triyanto, pihaknya mendatangi lokasi PT Cendratex karena menganggap pihak PT Cendratex selama ini tidak kooperatif melakukan perundingan perihal sengketa tanah. “Badan Pertanahan Nasional sudah memfasilitasi untuk pertemuan antara ahli waris Sumariyah dengan Cendratex, namun pemilik tidak pernah datang membicarakan permasalahan ini. Bahkan kami telah mengirim surat somasi dua kali tapi tidak dapat tanggapan,” tandas Toni.

Kasus ini bermula sejak tahun 2003, Sumariyah mendapatkan wasiat dari suaminya, Nasrudin almarhum, untuk mengurus hak milik lahan selauas 11.050 meter persegi. Tanah itu dibeli Nasrudin dari Masyur Ashadi Asnan yang saat itu masih menjabat sebagai kepala desa di Pringapus. “Saat itu belinya masih Rp 11 juta, ada bukti pembelian berupa kwitansi tertanggal 17 Januari 1989 dan permohonan balik nama yang diperkuat oleh Camat saat iru M Sahli Suwidi,” ujarnya.

Namun sayangnya tanah milik janda anak satu ini pada tahun 2003 sudah berganti nama pemilik dan didirikan pabrik konveksi. Padahal tanah ini masih atas nama pemilik awal dan terdaftar dalam Petuk D huruf C Desa 942 persil nomor 8.a Kelas II/S. Usut-punya usut diketahui pabrik tersebut telah membeli tanah dari Samsudin seharga Rp 567 juta pada tahun 2001.

Padahal Samsudin ini hanya menyewa lahan ini pada Nasrudin Rp 13 juta selama 13 tahun. namun dalam perjalanannya justru dijual pada pabrik konveksi. “Tanah itu tidak dijual tapi kok keluar HM nomer 370 milik Samsudin dan muncul HGB Cendrateks. HGB berdasar SK Kepala Kanwil BPN Jateng No 0261-5502-0633-2003,” ungkapnya.

Sumariyah pun tidak tinggal diam, upaya hukum pun di tempuh ke Polisi. Pada tahun 2005, Pengadilan Negeri (PN) Ungaran memutus bersalah atas pemalsuan surat dan menghukum Samsudin selama lima bulan. Selain itu Samsudin dinyatakan kalah dalam sidang perdata di kasisi MA.

Akibat sengketa lahan tersebut, pihak ahli waris Sumariyah menderita kerugian materi yang besar. Sebab selain tidak bisa memanfaatkan tanah tersebut, mereka tidak menerima manfaat dari tingginya nilai tanah dilingkungan berikat tersebut.

Sementara itu pihak PT Cendratex Indah Busana, Wulan yang menemui menyatakan akan meneruskan permasalahan ini ke atasannya, karena dirinya tidak memiliki kewenangan menanggapi dan memutuskan. “Dalam hal ini saya tidak memiliki kewenangan, hasil audiensi ini akan kami sampaikan ke atasan,” katanya di depan keluarga Sumariyah. (dni/jpnn/mg15/zal)