RANDUSARI – Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jateng diprotes karena telah melakukan penyitaan truk tanpa dasar hukum yang jelas. Hingga sekarang, penyitaan truk tersebut telah berlangsung selama 4 bulan lebih tanpa ada kejelasan apa unsur pidananya.

Pihak yang merasa dirugikan itu adalah seorang pengusaha jual beli karet, Sukadi, 44, warga Cepogo RT 1 RW 8, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara. Dia merasa sangat kecewa atas kinerja penyidik Ditreskrimum Polda Jateng yang dalam konteks kasus ini dinilai tidak profesional. ”Sudah 4 bulan truk milik saya disita tanpa ada kejelasan unsur pidana. Tidak ada kejelasan apa kesalahannya,” ungkap Sukadi, Minggu (23/11).

Dikatakannya, atas penyitaan itu, pihaknya merasa sangat merugikan. Bagaimana tidak, bisnisnya jual-beli karet harus tersendat karena alat transportasi yang sering digunakan disita polisi. ”Itu truk satu-satunya milik saya. Sampai sekarang disita polisi, dan tidak dikembalikan,” keluhnya.

Dia menceritakan, awalnya pada Rabu (30/7) lalu, truk Elf bernopol K-1816-CR miliknya, dikemudikan Mulyadi dan kernet Jamal, keduanya warga Cepogo, Kembang, Jepara, membawa muatan karet mentah sekitar 9,6 ton. Sesampai di depan PT Rubberindo Pratama, Kecamatan Boja, Kendal sekitar pukul 06.00, truk tersebut tiba-tiba dicegat oleh tiga pria yang mengaku sebagai anggota Brimob. Muatan karet dituduh hasil pencurian, hingga akhirnya tiga anggota tersebut menyita truk bersama muatannya.

Begitu dilapori sopirnya, hari itu juga Sukadi langsung berangkat dari Jepara menuju lokasi. Akan tetapi, sesampai di lokasi, ternyata truk miliknya sudah tidak ada. ”Padahal kuncinya masih dipegang oleh sopir saya. Menurut salah seorang satpam di sekitar lokasi, truk milik saya dibobol kuncinya oleh tiga Brimob tersebut,” katanya.

Tak lama kemudian, Sukadi berusaha mencari informasi ke Polsek Boja. Diketahui, truk tersebut telah dibawa ke Mapolda Jateng. ”Saya dituduh jadi pengepul karet curian. Padahal jelas-jelas saya membeli dari petani. Ada saksinya bernama Pak Luri, petani karet dari Perkebunan Karet Rakyat. Saya membeli dari sana. Bahkan penyidik telah memintai keterangan saksi, hasilnya tidak ada masalah,” ujarnya.

Karet mentah itu dibeli dari daerah Jepara. Secara rinci, dari petani sekitar 4,2 ton dengan harga Rp 5 ribu per kg, dan dari pengepul 5,4 ton dengan harga Rp 6 ribu per kg. ”Nilai totalnya sekitar Rp 55 juta,” bebernya.

Karet itu hendak disetorkan ke pabrik pengolahan, yang jual belinya biasa dilakukan di daerah Boja Kendal. ”Tiga orang Brimob itu salah satunya bernama Didik. Mereka mengaku dari Brimob PTP,” katanya.

Dalam perkembangannya, Sukadi mendapat surat panggilan dari penyidik Ditreskrimum Polda Jateng. Melalui seorang penyidik bernama Paryono, ia pun memenuhi panggilan pada 28 Juli 2014. ”Saya dimintai keterangan sebagai saksi oleh penyidik bernama Paryono,” akunya.

Setelah itu Sukadi mengaku telah dipanggil dua kali lagi. Panggilan dilakukan melalui telepon. Dia juga telah memenuhi panggilan dan disuruh menandatangani penyitaan barang bukti. ”Tapi anehnya, saya tidak mendapat kepastian tentang apa kasusnya. Apa tindak pidananya. Saya sudah berkali-kali menanyakan terkait kepastian apa pidana dalam kasus ini. Namun lagi-lagi, penyidik tidak menjelaskan. Bahkan kasus ini menggantung hingga sekarang,” keluhnya.

Dikatakan, truk miliknya memang masih nongkrong di parkiran Ditreskrimum Polda Jateng. Namun muatan karetnya sudah tidak ada. Informasinya, muatan karet itu dipindahkan ke PTP (Perseroan Terbatas Perkebunan) Merbuh, Boja, Kendal. ”Saya berharap segera mendapat kepastian hukum. Rencananya, saya akan mengirim surat ke Kapolda Jateng, Irjen Pol Nur Ali,” katanya.

Direktur Reskrimum Polda Jateng, Kombes Pol Purwadi Ariyanto, belum bisa dikonfirmasi terkait hal ini. Saat dihubungi, telepon selulernya terdengar nada aktif, namun hingga berita ini diturunkan belum direspons.

Kepala Bidang Propam Polda Jateng, Kombes Pol Hendra Supriatna, mengatakan, pihaknya mengaku belum mengetahui perihal perkara tersebut. ”Kalau sebuah kasus sudah dilaporkan, pasti ditindaklanjuti,” ujarnya.

Hendra mengatakan, pihaknya juga sempat menerima aduan dari PT Rubberindo di Boja Kendal. Terkait banyak truk pengangkut karet yang dihadang anggota Brimob untuk dimintai duit. ”Saya sudah tangkap beberapa anggota Brimob,” katanya. (mg5/aro/ce1)