Pengusaha Tempe Kurangi Ukuran

131

KENDAL—Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi berdampak langsung kepada para pengusaha. Salah satunya, pengusaha tahu dan tempe di Kendal yang kelimpungan lantaran masih belum berani menaikkan harga tahu dan tempe yang di jual di pasaran.

Suyanto, salah seorang pembuat tahu dan tempe mengatakan kenaikan harga BBM berimbas pada meningkatnya biaya produksi dan bahan baku kedelai di pasaran. Praktis untuk menutupi biaya tersebut, dia terpaksa mengurangi ukuran tahu dan tempe. Hal itu dilakukan karena pengusaha belum berani menaikkan harga tempe maupun tahu. “Hanya berani mengurangi ukuran tempe dan tahunya, karena kalau dinaikkan harganya, pasti pembeli akan kabur,” ujarnya, Minggu (23/11).

Ia mengaku, sudah tiga hari mengurangi ukuran tahu. Langkah ini dilakukan untuk menekan kerugian akibat bertambahnya biaya produksi khususnya untuk pengiriman barang. Diakuinya pengurangan ukuran tahu dan tempe sempat di protes pedagang. Namun pengusaha tidak bisa berbuat banyak daripada harus menanggung rugi yang banyak karena menaikkan harga. “Pasalnya jika menaikkan harga tempe dan tahu justru akan membuat usaha produksi tempe dan tahu gulung tikar,” jelasnya.

Diakui, berkurangnya ukuran tahu membuat omsetnya tiga hari terakhir mengalami penurunan. Jika sebelum harga BBM naik bisa menghabiskan kedelai satu ton. “Tapi paska kenaikan BBM berkurang menjadi 8 kwintal saja, tidak sampai satu ton,” jelasnya.

Ukuran tahu sendiri disesuaikan dengan pasar, biasanya dalam satu cetakan bisa dijadikan 100 hingga 80 biji. Begitu pula dengan tempe dikurangi dengan membuat tempe menjadi tipis ketebalannya ataupun memendekkan ukurannya.

Salah seorang warga, Sulastri, 30, mengaku kecewa dengan tempe yang dibelinya beberapa hari terakhir ini. Sebab banyak ditemukan tempe kedelai yang bercampur dengan biji jagung. “Selain itu ukurannya jauh lebih kecil, sementara harganya masih sama. Ini jelas merugikan pembeli,” katanya. (bud/ric)