Atika Rahma. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
Atika Rahma. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
Atika Rahma. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)

MEMILIH resign atau keluar dari pekerjaan yang sudah mapan, sulit diterima begitu saja oleh banyak orang. Justru keputusan itu diambil oleh Atika Rahma, 25. Setelah sekian lama menjadi karyawati salah satu bank ternama di Jakarta, dara mungil ini memilih menggeluti bisnis Wedding Organizer (WO) yang dikelolanya seorang diri di Semarang.

Baginya, bekerja sebagai karyawan seperti robot yang sulit berkembang. Bekerja sebagai karyawan mengakibatkan banyak ide dan kreativitasnya tersumbat. Pasalnya, apa-apa cenderung dikendalikan oleh atasan dan jauh dari kebebasan berekspresi. Makanya, dia memilih mendirikan usaha mandiri ketimbang menjadi karyawati bank.

Berdirilah WO bernama ATRA yang terletak di Jalan Karanglo I Nomor 46 B, Kelurahan Pedurungan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Dari buah tangan dinginnya, sudah 3 tahun bisnis berjalan.

Lulusan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro ini, kian mendulang sukses. Bersama 3 karyawan tetapnya, WO yang didirikan Atika kian berkembang. Selain melayani rias pengantin, ia juga menyediakan jasa dekorasi, katering, fotografi hingga menggarap event-event musik. ”Saya lebih senang mengelola sendirian. Jika banyak atasan, pimpinan atau kepala, terlalu ribet,” katanya kepada Radar Semarang.

Namun jika pekerjaan membutuhkan keterlibatan banyak tim, ia baru bekerja sama dengan orang-orang yang kompeten. ”Saya sendiri yang pilih timnya, tiap event nggak sama,” kata dia.

Dijelaskan dia, usaha yang dirintis itu hanya menggunakan modal Rp 10 juta. Uang yang ditabung dari hasil kerja sebagai karyawati sebuah bank. ”Saya resign dari bank sejak tiga bulan yang lalu,” katanya.

Keputusan tersebut tentunya telah melewati pertimbangan matang. Bahkan selama menjadi karyawati bank, ia rela bolak-balik Jakarta-Semarang, demi menekuni bisnisnya.

”Dulu, mulai hari Senin hingga Jumat, saya bekerja di Jakarta. Namun, Sabtu-Minggu, pulang ke Semarang mengurusi bisnis WO. Makanya sering bolak-balik Jakarta-Semarang. Saya memilih resign agar bisa lebih fokus mengembangkan usaha ini,” tandas gadis yang berulang tahun 6 April ini.

Hingga sekarang, Atika mengaku, dalam satu bulan hanya menentukan atau mengerjakan 4 acara pernikahan. Baik berkonsep modern maupun tradisional. ”Hal itu sengaja diambil agar hasilnya maksimal. Perhitungannya setiap satu kali acara membutuhkan waktu pengerjaan satu minggu,” kata gadis lulusan SMP N 15 Semarang dan SMAN 2 Semarang ini.

Dia mengaku, jiwa bisnisnya telah dimulai sejak masih duduk di bangku SMP. Dari dulu, saya suka bisnis. Sewaktu SMP, saya sering membuat aneka pernak-pernik hingga bisa diminati sejumlah teman yang tertarik membeli,” katanya.

Bahkan selama memulai bisnis WO, orang tua Atika tidak mengetahuinya. ”Tahunya saat banyak orang datang ke rumah untuk urusan bisnis WO, akhirnya orang tua mengetahui,” katanya.

Bahkan, selama satu tahun ke depan, para pemesan telah antre untuk dikerjakan. Terutama untuk acara pernikahan. Pemesan tersebut tidak hanya dari Semarang, bahkan hingga dari Jogjakarta. (mg5/ida/ce1)
Sejak SMP, Sudah Geluti Bisnis