MESKI bertepatan Hari Kesehatan Nasional (HKN), Rabu (19/11) lalu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi resmi meluncurkan Kartu Semarang Sehat (KSS), sebagian besar warga maupun rumah sakit besar dan Puskesmas belum mengetahui keberadaannya.
Wagino, warga Kelurahan Purwoyoso Kecamatan Ngaliyan, mengaku tak pernah mendengar kata KSS. Ketika ditanya soal jaminan kesehatan, bapak tiga anak ini menggunakan Jaminan Kesehatan Masyarakat Kota (Jamkesmaskot) untuk berobat di Puskesmas.
”Biasanya di Puskesmas hanya ditanya kartu Jamkesmaskot. Kalu KSS belum pernah dengar. Tahunya program Kartu Indonesia Sehat (KIS) Pak Jokowi dari televisi,” ungkapnya.

Bahkan, Staf Humas RSUD dr Kariadi, Neneng Syamsiah juga mengaku kebingungan ketika ditanya mengenai implementasi KSS. ”Jujur, saya belum tahu apa itu KSS. Selama ini, BPJS yang mem-backup jaminan kesehatan. Kami juga menerima Askes, Jamkesmas, atau kartu jaminan kesehatan lain yang belum dialihkan ke BPJS,” katanya.

Hal yang sama disampaikan Kepala Humas RSUP dr Kariadi, Darwito. Namun, kendati belum ada sosialisasi terkait kartu KSS, RSUP dr Kariadi akan mendukung program tersebut. ”Kami mendukung program itu. Itu bagus untuk menyejahterakan masayarakat Kota Semarang. Namun kami belum tahu, teknis ke dalamnya bagaimana,” ungkapnya.

Menurutnya, KSS yang diluncurkan oleh Wali Kota Semarang merupakan program dari Pemkot Semarang. Hanya saja pihaknya belum tahu penggunaan tersebut nantinya sama dengan program BPJS atau tidak. ”Kami sendiri belum tahu. Kalau yang saya tahu Kartu Indonesia Sehat (KIS),” katanya.

Kepala RSUD Ketileng, Susi Herawati juga menyatakan belum melayani pengguna KSS. Sebab kartu tersebut masih dalam peluncuran. Namun demikian, RSUD Ketileng siap melakukan pelayanan KSS. ”Kalau saat ini belum ada pasien pengguna KSS, sebab masih dalam peluncuran. Namun kami akan melayani KIS dan KSS juga,” terangnya.

Sedangkan Kepala Puskesmas Pandanaran, Antonia mengatakan bahwa pihaknya saat ini melayani pengguna Kartu Indonesia Sehat (KIS). ”Kalau KSS, belum,” pungkasnya.

Lain halnya dengan Budi Mulyono, kepala Puskesmas Purwoyoso. Dia menganggap wajar, KSS belum dikenal masyarakat karena memang belum dibagikan kepada semua warga. ”Kabarnya, waktu peresmian oleh wali kota kemarin, baru penyerahan simbolis. Hanya satu warga yang mendapatkan KSS mewakili setiap kecamatan. Jadi memang belum dibagikan semuanya,” ungkapnya.

Di Kecamatan Ngaliyan sendiri, lanjutnya, dari tiga Puskesmas, sementara ini hanya Tambakaji yang ditunjuk untuk melayani pengguna KSS.

Sedangkan Kepala Puskesmas Tambakaji, Sakinah menuturkan, KSS baru bisa digunakan awal Desember mendatang. ”Selama masih belum tersebar, pasien masih berhak menggunakan Jamkesmaskot. Pada intinya memang ada kesamaan antara Jamkesmaskot dengan KSS. Hanya prosudernya sekarang, lebih simpel,” jelasnya.

Di lain pihak, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Widoyono mengungkapkan bahwa pendistribusian KSS akan lewat Puskesmas. Warga tidak perlu mendaftar, karena memakai database warga miskin tahun lalu.

”Hingga akhir tahun lalu, warga yang tercatat Jamkesmas sebanyak 270.096. Sisanya, sebanyak 103.782 otomatis sudah terdaftar sebagai penerima KSS. Pendistribusiannya pun bertahap. Akhir bulan ini akan dibagikan 782 kartu, sisanya 2015 mendatang,” tandasnya. (mg16/mg9/ida/ce1)