RUMIT: Pemohon SIM A dan SIM C di jajaran Direktorat Lalu Lintas Polda Jateng, harus mengikuti beragam tes untuk bisa memiliki SIM. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 RUMIT: Pemohon SIM A dan SIM C di jajaran Direktorat Lalu Lintas Polda Jateng, harus mengikuti beragam tes untuk bisa memiliki SIM. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

RUMIT: Pemohon SIM A dan SIM C di jajaran Direktorat Lalu Lintas Polda Jateng, harus mengikuti beragam tes untuk bisa memiliki SIM. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Rencana penambahan persyaratan berupa tes psikologi bagi pemohon Surat Izin Mengemudi (SIM) A dan SIM C di jajaran Direktorat Lalu Lintas Polda Jateng, dinilai mempersulit masyarakat. Namun kebijakan tersebut tetap diberlakukan 1 Desember 2014 mendatang.

Sebagaimana pendapat Yudi, 45, warga Margoyoso, Ngaliyan, Kota Semarang. Meski bertujuan baik, ia meragukan pelaksanaannya. Sebab, meski gencar dikampanyekan berantas pungli, oknum-oknum dalam praktik percaloan SIM tetap mencari celah.

”Contohnya, dulu ada syarat membuat SIM A, yakni sertifikat dari lembaga kursus menyetir. Itu bisa dimanipulasi atau dimanfaatkan oleh oknum, jadi lahan bisnis. Asal bayar, sertifikat bisa keluar tanpa ikut proses kursus yang membutuhkan waktu lama. Jangan-jangan penerapan tes psikologi bisa seperti itu,” katanya.

Psikolog dan Pengamat Kepolisian, Dr Tugimin Supriyadi, saat dimintai komentar mengatakan bahwa pemberlakuan pemohon SIM tersebut patut mendapat apresiasi. ”Ini gebrakan Polda Jateng. Artinya, Polri benar-benar mau mengubah sistem pembuatan SIM. Tujuannya jelas, dalam rangka menurunkan angka kecelakaan,” kata pria yang juga Dosen Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia Jakarta ini.

Selain itu, persyaratan memperoleh SIM salah satunya, sesuai dengan Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009, adalah pemeriksaan psikologis. ”UU tersebut telah berjalan selama 5 tahun. Namun baru dilaksanakan sekarang. Kami harap, nantinya hasil pemeriksaan psikologis tersebut benar-benar mampu berperan dalam menurunkan angka kecelakaan lalu lintas,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Polda Jateng, Kombes Pol A Liliek Darmanto, memerintahkan kepada seluruh jajaran Polres di Jateng untuk melakukan sosialisasi terhadap pemberlakuan tes psikologi bagi pemohon SIM, terhitung mulai tanggal 1 Desember 2014 mendatang. ”Aturan ini diberlakukan berdasar hasil analisa dan evaluasi (anev) yang sudah dilakukan. Data yang ada, faktor penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas didominasi human error,” katanya.

Data Ditlantas Polda Jateng menyebut penindakan pelanggaran lalu lintas dengan bukti pelanggaran (tilang) semester 1 Tahun 2014 adalah 473.887 tilang. Rinciannya; 385.515 tilang roda dua, 268.926 di antaranya memiliki SIM, sisanya 114.589 pelanggar lalu lintas tidak memiliki SIM.

Untuk roda empat ada 90.732 yang ditilang, rinciannya 89.633 pengendara pemegang SIM melanggar dan sisanya 739 pelanggar lalu lintas tidak memiliki SIM. ”Terkait materi tes psikologi dan tata cara penilaiannya, akan disusun lembaga psikologi dalam pengawasan dan pembinaan psikologi Polda maupun Biro Psikologi Polri. Hasil tes psikologi ditetapkan dalam surat lulus tes psikologi,” katanya. (mg5/ida/ce1)