TAK SEBANDING: Kenaikan BBM tak sebanding dengan harga hasil tangkapan nelayan di pasaran. (Budi Setiawan/Radar Semarang)
TAK SEBANDING: Kenaikan BBM tak sebanding dengan harga hasil tangkapan nelayan di pasaran. (Budi Setiawan/Radar Semarang)

KENDAL—Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai dirasakan sejumlah nelayan di Kendal. Kenaikan harga BBM jenis solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500 terlalu memberatkan nelayan dan dianggap tidak sebanding dengan harga hasil tangkapan ikan di pasaran.

Ikan Tongkol besar misalnya, dari sebelumnya Rp 15 ribu kini menjadi Rp 9 ribu per kilogram.“Jadi tidak sebanding tenaga dan biaya yang nelayan keluarkan untuk sekali melaut. Sebab rata-rata nelayan menghabiskan 30-50 liter. Atau biaya kisaran 250 ribu untuk kapal kecil. Sementara hasilnya hanya laku murah saja,” ujar Koordinator Forum Nelayan Gempol Sewu-Tawang, Sugeng, Kamis (20/11).

Selain itu, akibat cuaca yang tak menentu akhir-akhir ini mengakibatkan pendapatan ikan juga tak menentu. Yakni hasil tangkapan ikan sedikit. “Sehingga banyak nelayan yang tak melaut,” tandasnya.

Hal serupa juga terjadi pada sejumlah nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kelurahan Bandengan, Keluarahan Karangsari, Kecamatan Kendal. Malah akibat kenaikan BBM para nelayan sudah beberapa hari ini tidak melaut. “Sebab hingga kini tangkapan ikan di laut masih sepi ditambah penjualan hasil tangkapkan ikan laut yang sangat rendah,” Abdul Rosyid, 30.
Ia menjelaskan, Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM solar membuat nelayan susah dan putus asa. Sebab, tahun ini boleh dibilang merupakan musim paceklik bagi para nelayan di Kendal.

Rosyid mengungkapkan, pilihan untuk tidak melalut seiring naiknya harga BBM itu adalah hal yang tepat. Sebab, kalau tetap dipaksakan melaut, maka nelayan rata-rata akan pulang tidak membawa hasil tangkapan. Mengingat, mengingat sepinya ikan tangkapan di laut saat ini. “Kalaupun dapat hasil tangkapan, tapi cuma sedikit dan hasil jualnya juga murah, maka hasilnya tidak imbang tenaga dan biaya yang sudah dikeluarkan nelayan,” keluhnya.

Handoko, 45, nelayan lainnya mengatakan kenaikkan harga BBM sedianya juga harus diikuti dengan kenaikan hasil tangkapan nelayan. Dengan begitu akan membuat nelayan tidak putus asa dengan kenaikan BBM bersubsidi ini.

Harga hasil tangkapan laut, terbilang rendah, Rajungan yang sebelumnya harganya Rp 50 ribu menjadi Rp 40 ribu, udang dari Rp 90 ribu kini Rp 75 ribu dan unus kini dihargai hanya Rp 30 ribu perkilonya.“Harapan kami, para nelayan ini tetap mendapatkan subsidi baik dari pemerintah daerah, provinsi maupun pusat. Sehingga tercukupi kebutuhan BBM, pengantian suku cadang maupun perawatan perahu,” harapnya. (bud/zal)