BASKORO/RADAR SEMARANG
BASKORO/RADAR SEMARANG
BASKORO/RADAR SEMARANG

SEMARANG – Skuad PSIS musim kompetisi 2014 sungguh tak menduga, hukuman yang dijatuhkan Komisi Disiplin akibat sepakbola gajah melawan PSS Sleman 26 Otober lalu begitu berat. Beberapa bahkan harus melupakan sepakbola karena ganjaran vonis seumur hidup dari Hinca Panjaitan dkk.

Semalam (20/11) Komisi Disiplin (Komdis) PSSI mengumumkan sanksi superberat yang harus diterima semua elemen tim yang terlibat dalam laga yang digelar di Stadion AAU Sasana Krida, Sleman, 26 Oktober lalu.

Sanksi terberat harus diterima oleh Manajer Wahyu ‘Liluk’ Winarto, pelatih Eko Riyadi dan empat pemain yang terlibat langsung dalam sepakbola gajah yaitu kiper Catur Adi Nugroho, Komaedi, Fadli Manna dan Saptono yang harus dihukum seumur hidup tidak bolah tampil di kancah sepakbola Indonesia.

Eko Riyadi juga harus membayar denda Rp 200 juta. Sedangkan empat pemain masing-masing Rp 100 juta. Sanksi berat lainnya juga harus diterima oleh asisten pelatih PSIS, Dwi ‘Londo’ Setiawan yang diganjar hukuman larangan terlibat di kompetisi selama 10 tahun plus denda Rp 100 juta.

Tak hanya itu, Komdis juga memberikan vonis larangan bermain bola selama lima tahun plus denda Rp 50 juta kepada pemain yang berada di lapangan. Kemudian larangan bermain satu tahun plus denda Rp 50 juta kepada pemain cadangan.

Terakhir, Komdis juga harus menghukum dua pemain asing PSIS Ronald Fagundez serta Julio Alcorse dengan hukuman larangan bermain selama lima tahun dan dikembalikan ke negaranya masing-masing. “Kami belum menghentikan investigasi yang terjadi di luar stadion. Tapi, aspek sepakbolanya telah selesai. Ingat, ini belum yang lain, di luar lapangan,” kata Ketua Komdis Hinca Panjaitan dalam jumpa pers usai sidang di kantor PSSI, tadi malam.

Hukuman terberat, diberikan kepada orang yang menginstruksikan untuk mencetak gol ke gawang sendiri. Selain itu, juga orang yang memiliki kemampuan kuat untuk mencegah pemain mencetak gol ke gawang sendiri, tapi tidak dilakukan, malah mendukung. ”Hukuman terberat larangan aktivitas seumur hidup di sepak bola dan denda Rp 200 juta,” tegasnya.

Sementara pemain yang mencetak gol di lapangan, atau tidak menjalankan fungsinya sebagai pemain dengan benar , mendapatkan sanksi yang lebih ringan. Yakni, larangan aktivitas seumur hidup dan denda Rp 100 juta. ”Bukan cuma yang mencetak gol, tapi striker PSIS Saptono yang harusnya mencetak gol tapi berdiri di gawang lawan dan mencegah gol terjadi, juga sama. Karena dia tidak menjalankan tugas pemain sebagaimana mestinya,” tambah Hinca.

Ofisial tim yang mendapatkan hukuman terendah adalah kitman (perlengkapan) dan masseur (pemijat). Mereka ikut disanski, karena juga memiliki peran sebagai penyampai pesan terakhir dari ofisial kepada pemain ketika berada di lapangan. ”Mereka kami denda dengan sanksi larangan aktivitas di sepak bola selama setahun, dan masa percobaan 5 tahun. Kalau tim mereka terlibat tindakan yang mencederai integritas sepak bola, selama lima tahun ke depan, mereka kena sanksi,” tandasnya.

Sementara, pemain asing PSS Sleman Guy Junior dan Cristian Adelmund, hanya disanksi larangan aktivitas selama setahun, masa percobaan lima tahun. Selain itu, ada juga denda Rp 50 juta. ”Kalau Fagundez dan Alcorse, silahkan keluar dari Indonesia sekarang juga. Mereka disanksi berat karena ditanya berbelit-belit, terkesan menutupi, dan tak ada penyesalan. Kalau Guy langsung menyesal dan mampu bekerja sama. Sanksi ini bisa dibanding karena berkaitan dengan nasib mereka yang terlibat,” cetus Hinca.

Menanggapi sanksi ini, Manajer PSIS Wahyu Winarto saat dikonfirmasi mengaku belum bisa banyak berkomentar. ”Kami masih akan rapatkan bagaimana langkah kami selanjutnya sambil menunggu putusan resmi. Tidak bisa banyak ngomong dulu,” ucapnya singkat. (bas/smu)