Bikin Boneka 3D, Sempat Ditolak Pasar

126
KREATIF: Fadilah bersama suami, Imam Subagio, dan anak semata wayangnya menunjukkan boneka karyanya. (AKBAR SATRIAWAN/RADAR SEMARANG)
 KREATIF: Fadilah bersama suami, Imam Subagio, dan anak semata wayangnya menunjukkan boneka karyanya. (AKBAR SATRIAWAN/RADAR SEMARANG)

KREATIF: Fadilah bersama suami, Imam Subagio, dan anak semata wayangnya menunjukkan boneka karyanya. (AKBAR SATRIAWAN/RADAR SEMARANG)

Boneka identik dengan dunia anak-anak, termasuk kalangan remaja putri. Ini menjadi peluang bisnis bagi Fadilah. Bersama suaminya, Imam Subagio, ia sukses membuka usaha pembuatan boneka. Seperti apa?

AKBAR SATRIAWAN

KREATIVITAS yang tinggi adalah salah satu modal Fadilah dalam membuat boneka dari kain flanel. Wanita asli Semarang ini mengaku keahliannya membuat pernak-pernik berbahan kain didapat saat masih anak-anak. Meski hanya lulusan SMP, namun keahlian Fadilah membuat boneka dan aksesori lainnya patut diacungi jempol.

Ia mengakui, sebelum fokus membuat boneka, ia lebih dulu membikin pernak-pernik bros, jepit rambut, dan aksesori wanita lainnya. Produknya itu lantas dititipkan ke sejumlah toko aksesori. ”Awalnya, produk saya kerap ditolak oleh pemilik toko. Mereka nggak mau kalau saya titipi,” kenang Dila –sapaan akrabnya.

Tapi, seiring berjalannya waktu, produk aksesori ibu satu anak ini akhirnya diterima masyarakat. Bahkan, laris manis di pasaran. Hingga dia melebarkan sayapnya dengan memproduksi boneka dari bahan kain flanel. Sasarannya, justru bukan anak-anak, melainkan remaja dan orang dewasa.

Untuk pemasarannya, selain membuka stan di arena Car Free Day (CFD) setiap minggu pagi, dia juga memasarkan lewat sosial media seperti Facebook, Twitter, Instagram dan BlackBerry Messenger (BBM).

Menurut perempuan 29 tahun ini, salah satu karakter boneka yang banyak diminati konsumennya adalah karakter pekerjaan, seperti boneka berbaju polisi, dokter, kontraktor dan lainnya. Untuk lebih menarik konsumen, penyuka soto ini memberi hiasan background pada boneka yang diproduksi hingga terlihat tiga dimensi (3D).

Tak diduga, boneka produksi Dila laku keras di pasaran. Orderan pun terus mengalir. Karena kebanjiran order, ibunda Lintang ini mempekerjakan sejumlah tetangganya. Dila mengaku senang menekuni bisnis ini, karena dikerjakan di rumahnya di Jalan Gayamsari IV, Pedurungan. Bahkan sekarang, suaminya, Imam Subagio turut membantu menjalankan bisnis.

”Suami saya memutuskan resign dari pekerjaannya, dan fokus berbisnis boneka bersama saya,” katanya.

Dila mengaku hanya kesulitan dalam pengiriman barang, karena ada produknya yang menggunakan kaca. ”Kalau ada pesanan pakai frame kaca kendalanya di pengiriman. Karena risiko pecah,” ujar pemilik brand Gembul Craft ini.

Ke depan, ia berharap bisnisnya akan semakin besar, sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan yang lebih banyak lagi. ”Saya juga pengin mengadakan workshop dalam pembuatan boneka flanel kepada ibu-ibu rumah tangga,” tambahnya. (*/aro/ce1)