Teknologi dan Agama Bisa Sejalan

65

SEMARANG – Ilmu teknologi dan keagamaan, selama ini diposisikan bergesekan. Bahkan kerap terjadi konflik gara-gara mengkaji sebuah teori. Padahal, jika dikaji lebih mendalam, teknologi dan agama bisa sejalan.

Hal itu dikatakan Dede Rosyada dari Dirjen Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) ketika menjadi pembicara dalam seminar bertajuk ”Islam, Science, and Civilization hasil kerja bareng IAIN Walisongo dengan Universitas Teknologi Malaysia di Hotel Pandanaran, Rabu (19/11) kemarin.

Salah satu pembicara Amin Abdullah, Staf Ahli Menteri Agama RI Bidang Kependidikan menjelaskan, religion and science bisa berdialog dan terintegrasi. Bukan saling meninggalkan karena terbentur masalah biokrasi dan alasan dana. Tidak bisa keduanya terpisah. ”Karena kecenderungan saat ini, keduanya berjalan sendiri-sendiri, sehingga tidak bisa untuk menyelesaikan persoalan hidup yang sangat kompleks,” ungkapnya.

Sementara itu, Rektor IAIN Walisongo Semarang, Muhibbin Noor berharap, lewat seminar ini, lahir rumusan jelas mengenai ilmu dunia yang murni. ”Ini kan masih terkait lingkup birokrasi program pendidikan. Nantinya tinggal pematangan saja. Lagi pula, kami sudah punya sistem pembelajarannya,” cetusnya.

Memang, lanjutnya, pemisahan ilmu agama dan pengetahuan sudah didoktrin sejak dulu. Misalnya ada sekolah, ada madrasah. Hal itu merupakan dikotomi kedua ilmu yang luar biasa. ”Padahal dalam Alquran, ilmu ekonomi ada dan Islam mengajarkan ekonomi yang baik, seperti Bank Islam yang tidak terkena dampak dengan krisis moneter dan di luar Islam hal itu mulai melirik. Islam mengajarkan tentang ilmu dunia dan agama,” jelasnya. (mg16/ida/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here