KHOMER: Ratusan minuman keras hasil sitaan Satpol PP Demak siap dimusnahkan. (wahib pribadi/Radar Semarang)
KHOMER: Ratusan minuman keras hasil sitaan Satpol PP Demak siap dimusnahkan. (wahib pribadi/Radar Semarang)
KHOMER: Ratusan minuman keras hasil sitaan Satpol PP Demak siap dimusnahkan. (wahib pribadi/Radar Semarang)

DEMAK- Aparat Satpol PP bersama tim yustisi penegakan peraturan daerah (perda) berhasil menyita ratusan botol miras berbagai jenis di dua lokasi yang berbeda.

Pertama, sebanyak 223 miras diperoleh dari yustisi di Desa Brumbung, Kecamatan Mranggen. Terdiri dari, 173 botol miras cap tiga orang, 18 mansion house (vodka) 250 mili, 8 vodka 350 mili dengan kadar alkohol 40 persen, 11 wisky dan 13 anggur merah cap orang tua. Dari jumlah itu, 30 botol miras diantaranya ditemukan ditoko milik Ahmadi, warga RT 7 RW 4.
Sedangkan, sisanya tidak diakui Ahmadi sebagai miliknya. Namun, miras berharga mahal itu berada digudang tertutup dengan pintu berlapis-lapis dan terdapat bungker terletak dibelakang toko Ahmadi.

Kasatpol PP Pemkab Demak, Yulianto mengatakan, pihaknya terpaksa membongkar gudang tersebut dan ternyata ditemukan banyak miras. Di belakang toko juga ada ribuan botol miras kosong yang ditaruh dalam karung. “Kita semula curiga dibelakang toko kok ada banyak botol miras. Kita cek lagi ternyata ada gudang yang mencurigakan. Jika dilihat dari luar tidak menyangka kalau di dalamnya tempat penyimpanan miras,”katanya didampingi Staf Penegakan perda, Sugiyono, kemarin. Kasatpol Yulianto membeber, informasi yang dihimpun pihaknya, miras di Mranggen tersebut dibekingi aparat. “Meski demikian, saya tidak takut,”katanya dengan lugas.

Selain itu, Satpol PP juga merazia tempat karaoke di RT 5 RW 1, Desa Werdoyo, Kecamatan Kebonagung milik Moh Makrub. Satpol mengamankan 8 pemandu karaoke (PK), setengah jerigen besar miras jenis arak, 7 botol aqua arak, satu miras oplosan ukuran teko besar, 6 miras cap tiga orang dan 13 miras anggur merah. “Karaoke tidak memiliki izin. Miras kita jadikan barang bukti,”jelasnya.

Yulianto mengatakan, miras adalah awal tindakan kriminal. Sedangkan, karaoke berpotensi menjadi tempat prostitusi terselubung dan ajang pesta miras. “Kita butuh perda karaoke sendiri. Kita juga berharap, DPRD mendukung upaya kami,”katanya.

Sejauh ini, Satpol PP hanya bisa melakukan yustisi 3 kali dalam sebulan. Idealnya, 3 kali yustisi dalam seminggu. “Tolong jangan potong anggaran Satpol PP. Kalau dipotong kami tidak bisa bergerak,”ujarnya. Menurutnya, sesuai perda nomor 1 tahun 2000 tentang larangan miras, pengedar maupun pemakai bisa dikenai hukuman penjara 6 bulan dan denda Rp 5 juta. (hib/zal)