TUNJUKKAN SAMURAI- Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono menunjukkan barang bukti samurai yang digunakan tersangka membabat korbannya di Jalan Suratmo Semarang dalam gelar perkara, kemarin (19/11). (ABDUL MUGHIS/RASE)
 TUNJUKKAN SAMURAI- Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono menunjukkan barang bukti samurai yang digunakan tersangka membabat korbannya di Jalan Suratmo Semarang dalam gelar perkara, kemarin (19/11). (ABDUL MUGHIS/RASE)

TUNJUKKAN SAMURAI- Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono menunjukkan barang bukti samurai yang digunakan tersangka membabat korbannya di Jalan Suratmo Semarang dalam gelar perkara, kemarin (19/11). (ABDUL MUGHIS/RASE)

SEMARANG BARAT – Konflik cinta segitiga yang dialami para remaja ini berujung maut. Muhammad Sandy Putrayanda alias Bambang, 18, warga Jalan Gedungbatu Timur RT 4 RW 8 Kelurahan Ngemplak Simongan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, tak sanggup menahan bara api cemburu di dadanya.

Ia nekat menggunakan samurai membabat seorang remaja, Krisna Adi Winata, alias Pepeng, 16, warga Jalan Talangsari No 16 RT 3 RW 6 Kelurahan Bendan Duwur, Gajahmungkur, Kota Semarang, yang dianggap merebut kekasih hatinya. Krisna akhirnya meregang nyawa setelah sempat dirawat di RSUP dr Kariadi. ”Ini soal cinta segitiga. Dia (Krisna, Red) merebut pacar saya,” ujar Sandy saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Rabu (19/11).

Sandy mengaku cemburu saat mengetahui pacarnya, Ajeng Ayu Sukmasari, menjalin hubungan cinta dengan korban. ”Saya pacaran sama Ajeng sudah 1,5 bulan. Dia (Krisna, Red) malah menjalin hubungan dengan pacar saya,” ujarnya.

Puncak kecemburuan tersebut terjadi pada Minggu 9 November 2014 lalu, sekitar pukul 02.30. Sandy mengajak korban untuk bertemu dengan maksud menjelaskan perihal cinta segitiga tersebut. Pertemuan tersebut disepakati dilakukan di Jalan Suratmo, tepatnya di sebelah barat Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Semarang, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang.

Korban yang ditemani kawannya Tyar Indransyah, berboncengan mengendarai motor Honda Beat warna merah. Begitu keduanya melintas di sebelah barat PN Tipikor Semarang, tersangka yang berboncengan bersama temannya, dari arah berlawanan mengendarai motor Yamaha RX King, sambil menghunus samurai dan langsung membabatkannya ke arah kepala korban. ”Saya langsung sabetkan samurai menggunakan tangan kiri, mengenai helm korban,” katanya.

Korban bersama Tyar yang terjatuh dari atas motor, langsung dihampiri oleh tersangka. Setelah itu Sandy langsung memukul menggunakan batu bongkaran cor mengenai dada korban sebanyak dua kali. Puas menghajar korban, Sandy kemudian kabur dari lokasi kejadian. ”Saya tidak bermaksud membunuh. Saya tidak tahu kalau korban meninggal,” katanya.

Sebelumnya, tersangka melakukan komunikasi dengan teman korban Tyar melalui ponselnya. Termasuk janjian tersebut juga dilakukan melalui Tyar. Sehingga tersangka mendapat informasi keberadaan korban melalui Tyar. ”Saya tidak kenal dengan korban. Tapi dia mengenal saya,” katanya.

Saat dalam perjalanan, Tyar memang SMS-an dengan tersangka bahwa dia bersama korban berboncengan mengendarai Honda Beat warna merah. ”Saya tahu ciri-cirinya, langsung saya sabet menggunakan samurai,” katanya.

Tyar dibantu teman-temannya membawa korban ke RSUP dr Kariadi dengan diboncengkan motor. Namun sesampai di UGD RSUP dr Kariadi, nyawa korban tidak tertolong. Selanjutnya Tyar memberitahukan ke orang tua korban Kartiman yang kemudian melapor ke Polsek Semarang Barat keesokan harinya, sekitar pukul 11.00.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono mengatakan, kasus ini bermotif sakit hati. Setelah dilakukan penyelidikan, tim Reskrim Polsek Semarang Barat yang dipimpin Iptu Akhwan, meringkus tersangka pada Minggu 9 November sekitar pukul 20.00 di depan rumah Jalan Gedungbatu Timur. ”Saat ditangkap, tersangka sedang pesta miras bersama teman-temannya,” kata Djihartono.

Hasil pemeriksaan, tersangka juga diketahui terlibat aksi kejahatan lain. Di antaranya kasus penjambretan menggunakan senjata tajam. Namun pihak kepolisian masih terus mengembangkan penyelidikan. ”Tersangka dijerat Pasal 351 KUHP ayat (3), KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia, ancaman selama-lamanya 7 tahun penjara,” imbuh Djihartono didampingi Kapolsek Semarang Barat AKP Padli. Barang bukti yang berhasil diamankan masing-masing sebilah senjata tajam jenis samurai, 1 buah batu, 1 pasang sandal warna hijau merek Indomaret. (mg5/ida/ce1)