KREATIF: Jonathan Chrisnada Galih Pradipta dan adiknya Decky Chandra Christian Hanimdita serta robot Kit Gundam rakitannya. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
 KREATIF: Jonathan Chrisnada Galih Pradipta dan adiknya Decky Chandra Christian Hanimdita serta robot Kit Gundam rakitannya. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

KREATIF: Jonathan Chrisnada Galih Pradipta dan adiknya Decky Chandra Christian Hanimdita serta robot Kit Gundam rakitannya. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

Jonathan Chrisnada Galih Pradipta memiliki keterbatasan pendengaran atau tunarungu sejak lahir. Namun ia tak menyerah. Kini, ia sukses menjadi perakit dan penjual mainan robot atau Kit Gundam beromzet puluhan juta rupiah. Seperti apa?

M. HARIYANTO

JONATHAN Chrisnada Galih Pradipta kerap dipanggil Joe. Pria 42 tahun ini tidak menyangka jika usaha yang dirintisnya sejak 2001 lalu itu terus berkembang sampai sekarang. Penyandang tunarungu ini sukses membuka usaha perakitan dan penjualan Kit Gundam.

Adik kandung Joe, Decky Chandra Christian Hanimdita menceritakan, kakaknya itu mengenal Gundam saat sekolah di salah satu STM di Muntilan, Magelang.

”Saat sekolah STM di Muntilan itu, kakak saya bertemu dengan seorang teman yang punya model Kit Gundam. Sejak itu, kakak langsung tertarik,” kata Decky kepada Radar Semarang, Senin (17/10).

Dikatakan, kakaknya membeli Gundam pertama dengan uang tabungan yang dikumpulkan berbulan-bulan seharga Rp 700 ribu pada 2000. Bahkan demi mendapatkan Gundam, ia harus ke Jogja naik bus. Sebab, di Muntilan tidak ada toko yang menjualnya.

”Setelah kakak saya mendapatkan barang yang diimpikan itu, akhirnya timbul keinginan untuk melakukan bisnis melalui online,” terangnya.

Diakuinya, modal untuk melakoni bisnis tersebut tidak sedikit. Selain itu, niatan untuk berbisnis itu juga mendapat tentangan dari orang tuanya. Alasannya, sang kakak memiliki cacat mental.

”Awalnya, kakak saya bingung karena tidak mempunyai modal, lalu mencoba pinjam ke orang tua Rp 5 juta, tapi tidak diizinkan karena khawatir ditipu orang. Tapi, kakak tetap nekat berjualan Gundam dengan menyisihkan uang saku beberapa bulan,” jelasnya.

Hingga pada 2006, ia ikut membantu usaha yang sudah dikembangkan kakaknya bertahun-tahun itu. Ia memutuskan keluar kerja dari sebuah perusahaan di Jakarta pada 2006. ”Akhirnya saya ikut membantu kakak untuk memasarkan usaha perakitan dan penjualan lewat online,” katanya.

Saat ini, koleksi Kit Gundam yang dijual mencapai 2.000 jenis. Mainan robot itu didatangkan langsung dari Jepang dengan harga bervariasi mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Penjualannya selain lewat tokonya, juga dilakukan melalui website www.unicorn-toys.com.

”Jenis Kit Gundam ada strike freedom, astray, yunicore, sinanju, dan RX-782. Yang paling populer Gundam RX-782, karena merupakan Gundam pertama kali. Sampai sekarang, Gundam jenis RX-782 merupakan tokoh dalam robot. Harga yang paling mahal dendrobium, satu robot bisa dijual Rp 3,2 juta,” terang penjual online Gundam yang beralamat di Jalan Gedung Batu Utara I No 31 Semarang ini.

Diakunya, Gundam yang didatangkan dari negeri Sakura itu masih perlu dirakit, dan dilakukan pengecatan. Hal inilah yang bisa mengangkat harga jual Gundam tersebut.

”Memang masih berupa kit. Nantinya akan dirakit dan setelah itu dicat. Paling tidak kalau perakitan yang sederhana bisa hitungan jam saja. Tapi kalau tingkat yang paling sulit, bisa mencapai 2-3 hari,” katanya.

Kini, order yang harus dilayani menyebar hingga ke seluruh Indonesia. Misalnya, Maluku, Papua, Bandung dan Jakarta. Sebagian besar peminat berasal dari kalangan dewasa. ”Sehari bisa kirim 20-30 paket Gudam, keuntungan juga lumayan. Per bulan bisa laba mencapai Rp 7 juta kotor,” ujarnya.

Menekuni usaha jual beli memang tak luput dari kerugian. ”Pernah rugi meskipun hanya ratusan ribu saja. Sebab, waktu deal harga Rp 1 juta, tapi ternyata harga dari Jepang sudah naik lebih dari Rp 1 juta. Memang itu sebuah risiko, lama-lama kita belajar dari pengalaman itu,” katanya.

Nasib nahas juga pernah menimpa Joe. Kakaknya pernah dirampok di Jalan MT Haryono ketika akan menabung di bank. Ia harus merelakan uang sebesar Rp 12 juta dirampas penjahat.

”Waktu itu pada tahun 2011. Dua orang menghadang saya dan menodongkon pistol. Lalu membawa kabur uang saya dengan mengendarai motor. Namun kejadian itu tidak membuat saya dan kakak berkecil hati. Sekarang bisnis terus kami jalankan berdua,” ujarnya. (*/aro/ce1)