KRAPYAK – Arista Kurniasari, warga Jalan Sri Wibowo Dalam XII/251 RT 8 RW 5, Kembangarum, Semarang Barat yang sehari-hari bekerja sebagai guru SD Ngemplak Simongan Semarang didakwa melakukan penipuan dan tindak pencucian uang atas kasus investasi bodong batik SD-SMA dan alat tulis kantor (ATK). Atas perbuatannya, ia dijerat dengan pasal kumulatif.

”Selain menjerat terdakwa dengan Pasal 378 jo Pasal 65 KUHP tentang penipuan, terdakwa juga dijerat dengan Pasal 3 Undang-Undang RI nomor 8 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang,” ungkap Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang, Dadang S saat membacakan dakwaannya di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, kemarin.

Dibeberkan, terdakwa diketahui telah melakukan penipuan kepada sejumlah nasabahnya untuk berinvestasi di usaha pengadaan batik dan ATK Kota Semarang. Untuk meyakinkan nasabahnya, ia menggunakan Surat Perintah Kerja (SPK) dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang serta CV Cahaya Mulia yang diduga fiktif. ”Selain dengan surat tersebut, terdakwa juga menjanjikan keuntungan besar kepada para nasabahnya,” ujarnya di hadapan majelis hakim yang diketuai Bambang Kus.

Namun dalam kenyataannya, imbuh JPU, keuntungan itu hanya diberikan selama beberapa bulan, selanjutnya tidak diberikan. Tidak hanya keuntungan, para korban juga tidak dapat mengambil uang modalnya kepada terdakwa. ”Total uang nasabah yang ditilap oleh terdakwa dalam kasus ini sebesar Rp 99 miliar,” imbuhnya.

Terpisah, suami Arista yang bernama Yohanes Onang Supitoyo juga menjalani sidang perdana atas kasus yang sama. Ia juga dijerat dengan pasal berlapis, yakni Pasal 480 ke 1 jo Pasal 65 KUHP tentang Penadahan dan Pasal 3 UU RI nomor 8 tentang TPPU. Selain itu, jaksa juga menjerat Onang dengan dakwaan subsider yakni melanggar Pasal 5 UU RI nomor 8 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

”Terdakwa dinilai ikut andil dalam kasus ini karena dianggap mengetahui jika uang yang ditransfer ke rekeningnya adalah uang hasil kejahatan Arista yang tidak lain adalah istrinya sendiri. Uang tersebut kemudian digunakan oleh terdakwa untuk kepentingan diri sendiri termasuk membeli dua mobil Honda Jazz warna putih berplat H 2610 dan Daihatsu Grand Max putih H 8601 QY,” ungkap JPU Winda.

Menanggapi dakwaan tersebut, kedua terdakwa yang didampingi kuasa hukumnya, Tarwo Hadi menyatakan keberatan. Majelis hakim memberi waktu bagi keduanya untuk mengajukan nota keberatan atau eksepsi. Sidang ditunda dan dilanjutkan kembali pekan depan.

Untuk diketahui, keduanya ditetapkan menjadi tersangka oleh Satreskrim Polrestabes Semarang sejak 14 Juni 2014 lalu. Sebelumnya mereka dijebloskan ke sel tahanan Mapolrestabes Semarang hingga akhirnya secara resmi dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang pada 24 September 2014. Saat mereka dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kedungpane dan Lapas Wanita Bulu Semarang. (fai/ida/ce1)