DITEMBAK: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono saat menginterogasi tersangka Zaenuri dan Kasrumi, kemarin. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
 DITEMBAK: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono saat menginterogasi tersangka Zaenuri dan Kasrumi, kemarin. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)

DITEMBAK: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono saat menginterogasi tersangka Zaenuri dan Kasrumi, kemarin. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)

TEMBALANG – Sepak terjang duet pencuri motor ini cukup meresahkan masyarakat. Betapa tidak, keduanya hanya butuh waktu 15 detik untuk setiap kali beraksi. Bahkan selama empat bulan terakhir, tak kurang 25 sepeda motor berhasil digasak dari lokasi berbeda. Namun aksi gembong curanmor ini berakhir setelah aparat Reskrim Polsek Tembalang berhasil melumpuhkan kaki keduanya dengan terjangan timah panas.

Dua alap-alap motor itu adalah Zaenuri, 30, warga Karanggundang, Padang, Kabupaten Grobogan, dan Kasrumi, 29, warga Bogosari, Kabupaten Demak. Keduanya beraksi dengan sasaran wilayah perumahan dan tempat kos yang dihuni para mahasiswa. Dengan berbekal kunci modifikasi buatannya berbentuk letter Y dan T, keduanya mampu beraksi dengan cepat.
”Sekali beraksi hanya butuh 15 detik,” kata tersangka Zaenuri saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Senin (17/11).

Dikatakan Zaenuri, ia memilih waktu beraksi malam hari, untuk mencari kelengahan korban yang sedang terlelap. ”Saya hanya mencari motor yang rumah kuncinya tidak tertutup,” ujarnya.

Zaenuri beralasan, motor yang terdapat penutup kunci membutuhkan waktu cukup lama, dan rawan diketahui oleh warga ataupun korbannya. ”Kami lebih mengutamakan kerja cepat. Kalau ada penutupnya terlalu sulit,” katanya.

Untuk jenis motor yang dincar, Zaenuri mengaku selalu memilih motor merek Honda, baik jenis bebek, maupun matic. Keduanya memilih jenis Honda karena motor tersebut cenderung gampang dijual dan banyak peminatnya.

Selama 4 bulan beraksi, Zaenuri mengaku berhasil menggasak 25 motor di lokasi berbeda. Aksi terakhir dilakukan pada 31 Oktober sekitar pukul 02.00 lalu di Jalan Sambiroto, Tembalang. Keduanya membagi peran, tersangka Kasrumi bertugas memantau situasi di lokasi sasaran. Sedangkan Zaenuri menjebol gembok pagar, lalu mengambil motor Honda Vario.

”Motornya langsung kami bawa ke persawahan di Jamus, Mranggen, Demak,” ujarnya.

Setelah menyembunyikan motor hasil curiannya, kedua tersangka kembali ke lokasi kejadian untuk mengambil motor lagi. ”Totalnya tiga motor yang disembunyikan di sawah,” katanya.

Motor hasil curian itu kemudian dijual kepada seorang penadah, yakni Muhammad Roekan, 44. Roekan sendiri juga dibekuk oleh tim kepolisian menyusul kemudian.

Uang hasil penjualan ketiga motor tersebut dibagi bertiga. Tersangka Kasrumi mendapat Rp 2,8 juta dan tersangka Zaenuri Rp 2,9 juta. Sedangkan penadah mendapatkan Rp 300 ribu.

Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono mengatakan, pengungkapan kedua tersangka berdasarkan laporan pencurian di wilayah Tembalang pada Oktober dan November.

”Berdasarkan pengakuannya, kedua tersangka sudah beraksi 25 kali. Silakan saja, itu pengakuan dia. Tapi tidak menutup kemungkinan mereka beraksi lebih banyak,” ujar Djihartono.

Hingga saat ini, pihaknya masih terus mengembangkan penyelidikan. Kedua tersangka akan dijerat Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara. Sedangkan tersangka Roekan dijerat pasal 480 KUHP tentang penadah barang curian dengan ancaman 4 tahun penjara. (mg5/aro