MUKHTAR LUTFI/ RADAR SEMARANG
MUKHTAR LUTFI/ RADAR SEMARANG
MUKHTAR LUTFI/ RADAR SEMARANG

KENNEDY Kiproo Lilan terus mengembangkan senyum, seusai penyerahan penghargaan pemenang. Sesekali dia melayani permintaan peserta Borobudur 10K untuk berfoto.

Pelari asal Negara Kenya ini terbilang cukup sukses. Sebelum ini, dia menjadi juara II Kategori Full Marathon 42K pria internasional di ajang Jakarta Marathon. Sebelumnya lagi juara pertama Bali Martahon.

Bukan perkara mudah menjadi juara di berbagai even marathon. Dia harus membiasakan diri dengan terus berlari setiap hari. Belasan hingga puluhan kilometer. Kennedy mengatakan amat menyukai lintasan yang berkelok dan naik-turun. Hal ini tidak berbeda dengan lintasan yang biasa ia geluti di kampung halamannya.

Selain itu, menurut dia, kondisi geografis di Kenya di mana berupa dataran tinggi membuat fisiknya lebih unggul dibanding peserta lainnya. “Ketika kami berlari di dataran rendah, berlari terasa lebih ringan. Ini tidak ada kaitannya dengan garis keturunan,” kata dia. Oleh sebab itu, tidak ada kata lain selain berlatih dengan ketat.

Pelari nasional Meri Paijo mengatakan kalau faktor geografis ikut mempengaruhi penampilan saat lomba. Sebelum terjun lomba, Meri mempersiapkan diri selama enam bulan dan memilih berlatih di Kupang. Kondisi cuaca yang panas di Kupang ternyata amat membantu kala berlomba di Borobudur. (vie/smu)