RESAH: Petani sayur di Bandungan mengeluh maraknya calo di STA Jetis. Apalagi saat ini harga cabai melonjak. Petani Bandungan sedang merawat tanaman cabai. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
 RESAH: Petani sayur di Bandungan mengeluh maraknya calo di STA Jetis. Apalagi saat ini harga cabai melonjak. Petani Bandungan sedang merawat tanaman cabai. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

RESAH: Petani sayur di Bandungan mengeluh maraknya calo di STA Jetis. Apalagi saat ini harga cabai melonjak. Petani Bandungan sedang merawat tanaman cabai. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

BANDUNGAN – Sejumlah petani mengeluhkan semrawutnya tata niaga pertanian di Sub Terminal Agrobisnis (STA) Jetis, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Pasalnya masih banyak praktik percaloan atau makelar dalam jual beli sayuran. Bahkan jumlah calo semakin lama, semakin meningkat. Akibatnya petani merasa dirugikan karena tidak dapat menjual langsung kepada pembeli, melainkan harus melalui makelar. Sehingga harga sayuran tidak seperti yang diharapkan para petani.

Salah seorang petani asal Dusun Talun, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Sono, 34, mengatakan, selama ini praktik calo atau makelar sayur sudah lama beroperasi. Bahkan jumlahnya dimungkinkan akan terus bertambah. Jika praktik calo sayuran dibiarkan, maka lama-lama petani tidak akan pernah dapat merasakan harga sayuran yang ideal. ”Kami tentu dirugikan dengan maraknya praktik calo sayuran di STA Jetis. Sebab kami tidak dapat bertransaksi langsung dengan pembeli. Tetapi berhadapan dengan calo yang langsung menghadang ketika kami baru masuk Jetis,” kata Sono, Jumat (14/11) kemarin.

Padahal hadirnya STA Jetis diharapkan akan dapat meningkatkan pendapatan petani. Namun kenyataannya para petani tidak dapat menentukan harga dengan menjual langsung kepada pembeli. Tetapi harus berhadapan dengan para calo yang menawar dengan harga yang sangat rendah. Belum lagi petani harus dibebani retribusi pasar, membayar ongkos timbangan dan ongkos angkutan. ”Kalau kami bisa bertransaksi langsung dengan pembeli maka harganya akan lebih tinggi. Karena tidak dipotong keuntungan calo. Misalnya saya bawa 1 ton cabai, calo menawar Rp 40 ribu per kilogram. Nanti mereka menjual pada pedagang Rp 50-60 ribu per kilo,” ungkap Sono.

Sono berharap pemerintah Kabupaten Semarang melakukan pembenahan tataniaga pertanian di STA Jetis. Salah satunya melakukan penertiban, sehingga tidak ada praktik calo sayuran. Sehingga pendapatan para petani akan semakin meningkat.

Anggota Fraksi PAN, DPRD Kabupaten Semarang, Said Riswanto mengatakan, maraknya calo sayuran di STA Jetis sebenarnya sudah dikeluhkan oleh petani sejak lama. Bahkan keluhan tersebut sudah dilaporkan kepada pemerintah. Namun tidak ada tindakan apa pun, bahkan terkesan ada pembiaran. ”Sebenarnya masalah itu sudah disampaikan ke pemkab, tapi tidak ada tindak lanjutnya. Semestinya pemkab harus mengambil langkah penertiban,” tuturnya. (tyo/zal/ce1)