SALATIGA – Penanganan sampah di Kota Salatiga tidak bisa berjalan optimal. Menyusul dua alat berat yang sering rusak. Mesin buldoser dan begoe yang sering mengalami kerusakan tersebut menghambat kerja petugas tempat pembuangan sampah (TPS) Ngronggo, Argomulyo dalam melakukan pengerukan.

”Sudah beberapa bulan ini, alat berat untuk mengeruk dan meratakan sampah milik Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang sering mengalami rusak mesin. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi kerja kami,” terang Supriyono, 54, seorang petugas kebersihan di TPS Ngronggo.

Apalagi saat ini sudah memasuki musim hujan, penanganan akan menjadi lebih berat, karena sampah bercampur dengan air. ”Sampah yang bercampur air itu salah satu yang membuat mesin kewalahan mengangkat sampah,” keluhnya.

Supriyono menambahkan, TPS Ngronggo setiap harinya menampung 150 sampai 200 kubik sampah dari pelosok Salatiga. Tata kelola sampah yang sudah menumpuk, dikeruk sedalam 7 meter dengan luas 5×7 meter. Sampah kerukan, diratakan dengan buldoser kemudian ditimbun dengan tanah. Sampah yang berupa organik diolah menjadi pupuk organik. ”Jika kedua alat berat tersebut tidak segera diganti spare part-nya, sampah bisa terus menggunung. Saya dengar memang dana sudah diketuk palu, tapi untuk pencairannya saya juga belum tahu,” tuturnya.

Menurut Masngudi Warga Ngronggo, 23, sebenarnya jika sampah di TPS Ngronggo dikelola dengan baik, bisa menjadi tempat wisata dan study tour sekolah dalam pengolahan sampah organik. ”Tempatnya bagus, punya jarak pandang yang jika dikelola sedemikian rupa bisa jadi tempat wisata. Sayangnya saat ini pemerintah hanya bisa melihat dari tempat pembuangannya saja,” terangnya.
Pemantauan Radar Semarang di TPS Ngronggo pukul 10.00, ramai dipadati pemulung. Terhitung hampir 20 puluh orang lebih pemulung berebutan memunguti sampah. Beberapa truk dam datang silih berganti membawa sampah dari pelosok Salatiga. Kondisi alat berat tidak sedang digunakan. Dua di antaranya terpakir di ujung TPS karena sering rusak. (mg14/zal/ce1)