Buka Semarang Actor Class, Siapkan Pentas Kampung

130
BELAJAR BERSAMA: Dua anggota Komunitas Rumah Tikar saat pentas teater. (DOK. PRIBADI)
BELAJAR BERSAMA: Dua anggota Komunitas Rumah Tikar saat pentas teater. (DOK. PRIBADI)
BELAJAR BERSAMA: Dua anggota Komunitas Rumah Tikar saat pentas teater. (DOK. PRIBADI)


Tak banyak komunitas teater yang mencurahkan diri untuk mengabdi kepada masyarakat. Namun bagi Komunitas Rumah Tikar, hal itu justru menjadi tujuan utamanya. Seperti apa?

AHMAD FAISHOL
BAGI kalangan seniman, dunia teater merupakan langkah awal menciptakan sebuah karya. Karena itu, dunia ini menjadi menarik karena di dalamnya terdapat kegiatan sastra, aksi panggung, gerak tubuh, musik, dialog, dan penataan artistik yang bercampur menjadi satu. Tidak heran jika banyak dari anak-anak muda yang mulai menggandrungi kegiatan ini.

Adalah Komunitas Rumah Tikar yang berusaha untuk mewujudkan keinginan luhur tersebut. Berawal dari 10 pemuda yang menginginkan teater sebagai ajang berkarya, maka Komunitas Rumah Tikar ini dibentuk. ”Tepatnya 15 September 2012. Komunitas ini terdiri atas para penggiat teater yang sudah tidak aktif di berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) teater di kampus Semarang,” ungkap Koordinator Rumah Tikar, Imam Machfudz kepada Radar Semarang.

Machfudz membeberkan, 10 orang tersebut adalah Imam, Bintang, Aan, Ciprut, Imaniar, Iruka, Maya, Tobi, Siro, Gendut, Ibrahim, dan Ista. Awalnya, mereka hanya berniat untuk mengembangkan komunitas sendiri. Namun dalam perjalanannya, banyak ide yang muncul. Dari program untuk anggotanya sendiri, hingga program untuk masyarakat. ”Juga ingin membantu teman-teman teater di Semarang khususnya kampus, biar kualitasnya meningkat,” katanya.

Di antara program yang sedang mereka kembangkan adalah Semarang Actor Class. Program pelatihan ini khusus untuk pengembangan diri melalui ilmu keaktoran. Pelatihannya digelar sebulan sekali. Untuk tempatnya fleskibel, namun kebanyakan di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). ”Pengisinya Mas Daniel, lulusan Institut Kesenian Indonesia (ISI) Jogjakarta jurusan teater. Program ini untuk umum dan berbagai usia,” ujar Machfudz.

Program lain, lanjut Machfudz, adalah dongeng ke sekolah, drama radio, sampai diskusi kesenian. Dalam waktu dekat, kata dia, pihaknya merencanakan menggelar pertunjukan dari kampung ke kampung. ”Semacam pentas kampung. Tujuannya, agar masyarakat lebih dekat dengan pertunjukan teater. Sebab, selama ini, teater masih dinikmati oleh kalangan tertentu. Masyarakat umum masih minim,” katanya.

Machfudz menambahkan, dari namanya sendiri komunitas ini menandakan kedekatannya dengan masyarakat. Kata ’Rumah’ berarti tempat bernaung. Sedangkan ’Tikar’ berarti alas. Sehingga Rumah Tikar adalah komunitas yang tidak ingin terbatasi dengan karya di kesenian teater saja, dan menunjukkan kedekatan dengan masyarakat.

Menurut dia, keanggotaan komunitas ini bersifat terbuka. Artinya, siapa saja boleh ikut bergabung. Tidak ada kriteria khusus. ”Di sini kami saling belajar dan mempelajari satu sama lain. Belajar teater, juga belajar kehidupan. Kami berdiri secara mandiri. Jadi, terbuka untuk siapa saja yang ingin ikut. Rutinitas kami berkumpul setiap Rabu di TBRS Semarang,” ujarnya. (*/aro/ce1)