Polisi Fokus Buru Pembunuh Dian

352
BERDUKA: Suasana pemakaman korban pembunuhan, Dian Dwi Puryani, kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 BERDUKA: Suasana pemakaman korban pembunuhan, Dian Dwi Puryani, kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BERDUKA: Suasana pemakaman korban pembunuhan, Dian Dwi Puryani, kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Aparat Reskrim Polrestabes Semarang fokus mengusut pelaku pembunuhan terhadap Dian Dwi Puryani, 30, warga Jalan Kaliwiru II No 45, Kelurahan Kaliwiru, Kecamatan Candisari, Semarang. Sejauh ini, polisi mencurigai pelakunya adalah pria misterius yang sempat menjemput Dian kali terakhir di rumahnya pada Sabtu (8/11) lalu. Namun polisi kesulitan mengungkap identitas pria bertubuh tinggi tersebut, lantaran minimnya keterangan saksi.

Selain itu, hingga kemarin, polisi belum mengamankan handphone milik mantan karyawati roti Swiss itu. Sebab, belum diketahui, apakah handphone milik Dian dibawa kabur pelaku, atau saat pergi tidak membawa handphone. Hal itu menjadi penghambat petugas melacak rekaman komunikasi terakhir korban dengan orang-orang dekatnya.

”Kami prioritaskan pengungkapan kasus pembunuhan ini. Kami sudah membentuk tim khusus,” kata Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono di Mapolrestabes Semarang, Kamis (13/11).

Dikatakannya, penelusuran tersebut lebih fokus untuk mencari pria yang menjemput korban pada Sabtu sore (8/11) lalu.

Djihartono menjelaskan, kepolisian mengusut secara detail hingga berusaha menemukan titik terang. Pemeriksaan saksi-saksi masih terus dilakukan untuk memperdalam seluk-beluk kasus pembunuhan tersebut. ”Soal kecurigaan ya harus punya, tapi kami tidak bisa asal tuduh begitu saja. Jelas harus berdasarkan alat bukti,” katanya.

Hingga kemarin, suami korban, Lilik Sugiarto, 33, juga masih diperiksa oleh penyidik Polrestabes Semarang sebagai saksi. Sedikitnya polisi sudah memeriksa empat saksi. Tiga saksi sebelumnya yang diperiksa, yakni penemu mayat Rahmat, warga Tinjomoyo RT 4 RW 8 Sukorejo, Gunungpati, Semarang dan dua orang dari pihak keluarga korban, yakni ibu korban, Jumini, serta bibi korban (adik dari ibu), Anik.

Lebih lanjut dikatakan Djihartono, pihaknya juga terus mengorek keterangan dari pihak keluarga untuk menelusuri dan mengungkap siapa pria yang menjemput korban tersebut. ”Penyelidikan berawal dari keterangan keluarga, mengenai korban pergi dengan siapa, itu penting,” ujarnya.

Pria penjemput tersebut mengenakan helm tertutup. Ciri-ciri berbadan tinggi. Diduga kuat, pria misterius itu ada kaitannya dengan pembunuhan Dian, yang mayatnya ditemukan di hutan wisata Tinjomoyo, Gunungpati, Semarang, pada Selasa (11/11) lalu.

Dian sendiri sejak pisah ranjang dua tahun, dengan suaminya, Lilik Sugiarto, sering bergaul dengan sejumlah pemuda jalanan berdandan mirip style punk. Bahkan sikap, penampilan, dan perilaku korban belakangan berubah drastis. Dian sering berdandan seksi, pakai rok mini, dan celana pendek ketat.

Sedangkan hasil otopsi tim dokter RSUP dr Kariadi sendiri menyebutkan tidak menemukan kekerasan seksual terhadap tubuh Dian. Sehingga hal itu menjawab bahwa korban tidak diperkosa. Meski korban ditemukan dalam kondisi tanpa celana atau setengah bugil.

Ada luka pukul di tengkuk menyebabkan pendarahan di otak, hingga mengakibatkan korban kritis. Penyebab meninggalnya korban dikarenakan saat dalam keadaan kritis, mulut disumpal menggunakan kain celana dalam, sehingga korban mengalami gagal napas dan menyebabkan kematian. Sementara bercak darah di sekitar kemaluan korban diduga merupakan darah menstruasi.

Ibu dua anak; Adelyna Nafsi Nur Latif, 7, dan Zakhi Pradhitya Sugiarto, 2,5, itu ditemukan di dalam hutan wisata Tinjomoyo dalam kondisi setengah bugil. Kedua tangannya diikat menggunakan tali rambut. Sedangkan lehernya dijerat bra, serta mulutnya disumpal menggunakan celana dalam wanita. Celana jins korban terlepas di sampingnya dan masih mengenakan kaus warna cokelat yang tersingkap di atas payudara.

Sementara itu, sejumlah sanak saudara korban histeris saat mengiring jenazah korban di pemakaman Kedung Winong sekitar pukul 09.00. Pihak keluarga sempat meminta izin kepada penyidik kepolisian, agar suami korban, Lilik, hadir di pemakaman tersebut. Namun tim kepolisian tidak mengabulkan permintaan tersebut. Terpaksa, Lilik yang masih diperiksa sebagai saksi itu tidak bisa mengantarkan istri yang melahirkan dua anak tercinta di persemayaman terakhir.
Di tengah mendung duka itu, ibu korban, Jumini, meminta kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Bahkan sang ibu berharap polisi segera menangkap pembunuh putrinya dan memberikan hukuman setimpal. ”Pelaku harus dihukum yang sama dengan apa yang dilakukan. Nyawa dibalas nyawa,” ujarnya.

Jumini terlihat lemas bahkan saat prosesi pemakaman selesai, ia terus mengenang putrinya yang meninggalkan dua anak. Tidak hanya itu, canda dari Dian bersama sang buah hati juga hal yang tak dapat dilupakannya. ”Sampai sekarang masih teringat saat Dian bercanda dengan dua anaknya yang masih kecil. Dia orangnya memang suka bercanda kalau di rumah,” papar Jumini. (mg5/aro/ce1)