BERSAING: Komunitas Pedagang Online Johar saat berwisata ke Bandengan, Jepara. (Istimewa)
BERSAING: Komunitas Pedagang Online Johar saat berwisata ke Bandengan, Jepara. (Istimewa)
BERSAING: Komunitas Pedagang Online Johar saat berwisata ke Bandengan, Jepara. (Istimewa)

Di Pasar Johar ternyata tak hanya dihuni pedagang konvensional. Ada juga pedagang online. Mereka membentuk komunitas. Namanya Komunitas Pedagang Online Pasar Johar. Seperti apa?
AKBAR SATRIAWAN

BERBEDA dengan komunitas lain yang di dalamnya tidak ada persaingan. Komunitas pedagang online Pasar Johar justru selalu ada persaingan dalam berebut konsumen. Namun mereka tetap bisa kompak.

Salah satu pendiri komunitas ini, Danang Ari Sambodo, menceritakan, Komunitas Pedagang Online Pasar Johar terbentuk awalnya hanya iseng karena sering bertemu. ”Jadi, secara tidak langsung kenal dengan banyak pedagang online yang datang di Pasar Johar. Dari situlah kita sering ngobrol-ngobrol mengenai banyak hal,” ungkap pria yang akrab disapa Danang ini.

Dari situlah muncul ide membentuk komunitas pedagang online Pasar Johar. Para pedagang yang tergabung dalam komunitas ini tidak hanya menjual satu jenis produk. Mereka ada yang menjual pakaian, sepatu, aksesori, jam tangan, dan sebagainya.

”Jadi, biasanya kami bekerja sama dengan distributor produk tertentu di Pasar Johar. Kami pasarkan barang mereka lewat dunia maya. Begitu ada pesanan barang, dan sudah transfer uang, barang kita ambil ke distributor lalu kita kirim ke pemesan lewat jasa ekspedisi,” jelasnya kepada Radar Semarang.

Setiap anggota komunitas ini umumnya memasarkan barang lewat situs jejaring sosial Facebook, Twitter, Kaskus, website online shop serta broadcast di BlackBerry Messenger (BBM). Besaran omzet yang didapat dalam sebulan bervariasi. Seperti Danang yang menjual jam tangan, mengaku omzet tertingginya pernah mencapai Rp 10 juta sebulan. ”Omzet itu saya dapat saat online shop belum menjamur seperti sekarang,” akunya.

Diakui, saat ini banyak pedagang lama yang mengeluh omzet-nya terjun bebas. Selain karena sudah banyak ’pemain baru’, juga lantaran banyak pedagang online baru yang merusak harga. ”Tapi, semua rezeki sudah diatur yang di Atas. Kita hanya berusaha saja,” cetus pria 30 tahun ini.

Ditanya wilayah pemasarannya, Danang menyebutkan kalau pemasarannya menjangkau di seluruh Indonesia, bahkan sampai luar negeri. ”Saya pernah mengirim barang sampai Jepang dan Afrika,” katanya bangga.

Menurutnya, waktu yang paling tepat untuk berburu konsumen adalah selepas magrib. Sebab, jam segitu kebanyakan orang pulang kerja, dan pasti banyak yang membuka BlackBerry.

Danang mengakui, dalam berbisnis online, risiko terkena kasus penipuan cukup besar. Misalnya, konsumen yang tidak membayar setelah barang yang dipesan dikirim. Sebaliknya, ada juga konsumen yang tertipu masal oleh pedagang online. ”Ceritanya waktu itu ada arisan Nano Spray sebesar Rp 300 ribu per bulan. Saya sudah ikut 6 bulan. Tahu-tahu orang yang ngadain itu hilang sampai sekarang,” kenangnya.

Untuk antisipasi penipuan, biasanya Danang mengirim barang pesanan ke konsumen setelah uang ditransfer. ”Kecuali kalau pelanggan setia, bisa saya kirim barang dulu, uangnya belakangan. Karena saya ini orangnya memang mudah percaya,” ujarnya.
Selain urusan bisnis, lanjut Danang, pada waktu-waktu tertentu Komunitas Pedagang Online Pasar Johar juga menggelar wisata bersama. Pada 2013 lalu misalnya, kurang lebih 100 anggota mengadakan piknik ke Jepara. Selain itu, pada Oktober 2014 kemarin, sebanyak 150 anggota dengan menumpang dua bus besar mengadakan rafting ke Magelang dilanjutkan ke Jogja.

Novia, selaku bendahara komunitas mengaku, saat wisata ke Magelang dan Jogja setiap peserta ditarik biaya Rp 130 ribu. Jika dananya kurang, biasanya dibantu oleh distributor barang yang mereka jualkan lewat dunia maya. ”Bagaimana pun distributor kan sudah kita bantu jualkan barang. Jadi, mereka kita mintai untuk ikut berpartisipasi dalam menutup kekurangan biaya,” ucap gadis berbehel ini. (*/aro/ce1)