KUALITAS MINIM: Workshop penyusunan program kemitraan PAUD yang digelar Himpaudi di Amantis, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
KUALITAS MINIM: Workshop penyusunan program kemitraan PAUD yang digelar Himpaudi di Amantis, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
KUALITAS MINIM: Workshop penyusunan program kemitraan PAUD yang digelar Himpaudi di Amantis, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

DEMAK- Kualitas dan kompetensi tenaga pendidik anak usia dini di wilayah Demak masih sangat terbatas. Menyadari adanya kekurangan ini, Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Himpaudi) membuat berbagai terobosan untuk meningkatkan kompetensi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tersebut. Diantaranya menggandeng para dosen atau pengajar di perguruan tinggi (PT) yang ada. Yaitu, Unisfat, Unnes Semarang, Universitas PGRI Semarang dan IKIP Veteran Semarang.

Ketua Himpaudi Demak, Ning Kakanti mengungkapkan, dengan kerjasama seperti itu, pihak PT tersebut bisa melakukan pendampingan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan PAUD, termasuk melakukan riset dan peningkatan mutu pendidikan. “Karena itu, guru PAUD kita dorong untuk berwirausaha agar bisa lebih mandiri. Misalnya saja, kita kembangkan kelompok belajar usaha, termasuk pembuatan makanan untuk anak-anak,” katanya disela workshop penyusunan program kemitraan PAUD di Amantis, kemarin.

Menurut Ning Kakanti, Himpaudi kini membina sebanyak 1.276 tenaga profesi yang berkiprah di 343 lembaga Kelompok Bermain (KB)/ Taman Penitipan Anak (TPA), 250 PosPAUD dan 45 TPQ PAUD. Sedangkan, jumlah siswanya sekitar 13 ribu anak usia dini. “Kita juga mendorong supaya PAUD ini bisa bekerjasama dengan berbagai lembaga di level kecamatan,” katanya.

Ketua Forum PAUD, Sri Lestari menambahkan, isu strategis yang digarap saat ini adalah mengoptimalkan lembaga PAUD, mewujudkan PAUD terpadu serta mendirikan 1 desa 1 PAUD. “Ini sesuai instruksi presiden yang dicanangkan pada 17 Desember 2012 silam,”ujarnya.

Kabid Pendidikan Non Formal (PNM) Disdikpora Demak, Natsir mengatakan, pihaknya kini terus mendorong berdirinya PAUD terpadu diseluruh kecamatan. Sebab, saat ini baru ada sekitar 10 lembaga PAUD terpadu di 4 kecamatan. Yaitu, Kecamatan Mranggen, Karanganyar, Wonosalam dan Mijen. “PAUD terpadu itu dilingkungannya tersedia TK A/B, kelompok bermain, TPA, PAUD sejenis dan lainnya,” jelasnya.

Natsir juga berharap, pemerintah lebih memperhatikan para bunda atau guru PAUD. “Sentuhan APBD baru sekitar 55 persen. Jadi, pemerintah kurang memperhatikan masalah kesejahteraan,” ujarnya. (hib/zal)