Separuh Cabor Belum Serahkan Daftar Atlet

120

SEMARANG – Meskipun batas terakhir penyerahan entry by name atlet untuk PON Remaja I di Surabaya ditentukan 15 November ini, namun separuh dari 15 cabang olahraga (cabor) belum menyerahkan daftar atlet, pelatih dan ofisial yang dikirim ke ajang itu kepada KONI Jateng. Kabid Binpres KONI Jateng Taufik Hidayah mengungkapkan, pihaknya menunggu daftar tersebut agar proses administrasi segera beres.

Taufik menduga belum dikirimnya daftar tersebut, karena masalah koordinasi di tingkat internal masing-masing induk organisasi (pengprov).”Sebagian besar memang belum mengirim daftar. Ada memang cabang olahraga yang harus melakukan seleksi di tingkat pengprov, karena PB PON Remaja sudah menentukan kuota. Cabang seperti tenis meja, tenis lapangan dan bulutangkis dijatah dua atlet, satu putra, satu putri,” kata Taufik.

Berdasarkan perhitungannya, ada 107 atlet Jateng yang akan berlaga di PON Remaja nanti. Mereka berasal dari atlet yang lolos berdasarkan babak kualifikasi dan sistem kuota. Cabang sepakbola dan bola basket adalah cabor yang paling banyak menyertakan atletnya. Taufik berharap, cabor sudah menyerahkan daftar atlet, pelatih dan ofisial ke KONI Jateng sebelum tanggal 15 November.

Dia tak ingin Jateng terlambat mendaftarkan atletnya ke PB PON, hanya karena pengprov terlambat menyerahkan daftar ke KONI Jateng. ”Kalau terlambat, konsekuensinya ya tidak bisa ikut PON Remaja,” kata dosen FIK Unnes itu.

Diakui dia, terkait dengan PON Remaja I yang mundur waktunya dari 6-12 Desember menjadi 9-15 Desember 2014, Jateng hanya mempelatdakan atlet selama 20 hari. Batas waktu pelatda, kata dia, sebenarnya minim. Meskipun demikian, dia optimistis karena para atlet yang berangkat mayoritas berstatus atlet Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) yang selama ini digembleng secara berkesinambungan, diyakini para atlet mampu bersaing di ajang tersebut.

Taufik juga wanti-wanti agar pengprov memberikan kesempatan atletnya untuk mengikuti PON Remaja. Jangan sampai, misalnya, karena ada persoalan di internal pengprov, atlet dikorbankan. “Atlet yang dianggap layak dan potensial harus didukung untuk ikut PON Remaja. Ingat, bagi mereka PON Remaja ini adalah istimewa. Pasalnya, mereka tak bisa ikut PON Remaja berikutnya karena usianya sudah lewat. Kalau mau masuk PON, usianya terlalu muda,” pungkasnya. (bas/smu)